Susahnya Pemakaman Warga yang Rumahnya Ditutup Pagar Lapangan

oleh

GLOBALINDO.CO, MOJOKERTO – Kedua rumah yang terisolir pagar lapangan Desa Kalikatir ini dihuni keluarga Sarmin (48)-Kasmiati (49), Kaslan (60)-almarhum Sutinah (50) mertua Sarmin, serta Kodisun (25)-Susiati (23) adik ipar Sarmin.

Hampir setahun, 2 rumah yang dihuni 3 keluarga di Dusun/Desa Kalikatir, Gondang, Mojokerto tertutup pagar lapangan yang dibangun pemerintah desa setempat. Tak hanya akses keluar masuk para korban, pagar ini sempat menyulitkan proses pemakaman. Seperti ini kisahnya.

Sakit komplikasi yang menyerang, membuat Sutinah meninggal pada Senin (12/3). Jenazah istri Kaslan ini pun disucikan di rumah duka yang tertutup pagar lapangan desa. Masalah pun timbul. Keluarga almarhum dan warga yang bertakziah dibuat bingung cara membawa jenazah dari rumah duka ke tempat pemakaman umum Desa Kalikatir.

Jarak rumah duka sebenarnya hanya 50 meter dari makam. Hanya lapangan bola voli di atas tanah kas desa (TKD) Kalikatir yang menjadi pembatasnya. Namun, jalan menuju makam dari rumah duka, kini ditutup pagar lapangan.

“Mau dilewatkan celah sebelah rumah tak muat, jalan utama lewat lapangan ditutup pamong (Pemerintah Desa Kalikatir). Orang meninggal masa diinapkan,” kata Likis Ninda Mufidah, cucu almarhum Sutinah kepada wartawan di rumahnya, Rabu (14/3/2018).

Baca Juga: Polemik Tembok Penghalang Rumah Warga di Kalikatir Mojokerto

Ini jalan setapak selebar 60 cm

Memang, celah antara rumah Kaslan dengan rumah tetangganya tak lebih dari 60 cm. Jalan sempit inilah yang menjadi akses satu-satunya bagi ketiga keluarga tersebut untuk menuju ke jalan kampung. Itu setelah April 2017 lalu, Pemerintah Desa Kalikatir menutup total jalan yang melalui lapangan voli.

“Jalan sebelah rumah tak muat, orang dipakai jalan sambil gendong anak saja tak muat. Karena tak ada jalan lain, keranda dan jenazah diangkat sama warga melompati pagar, pokoknya sampai di makam,” ujarnya.

Video proses pemakaman Sutinah yang harus melompati pagar lapangan desa ini juga menjadi viral di media sosial. Dalam video berdurasi 41 detik ini, tampak warga beramai-ramai mengangkat keranda berisi jenazah Sutinah menuju ke makam dengan lebih dulu melompati pagar lapangan desa.

“Sebenarnya kami khawatir jenazah jatuh, tapi mau bagaimana lagi. Alhamdulillah bisa sampai di makam dengan lancar,” terang Likis.

Kendati begitu, sampai saat ini Pemerintah Desa Kalikatir tak bergeming. Desakan para korban agar sebagian pagar lapangan desa dibongkar untuk jalan mereka, tak kunjung mendapatkan respons. Padahal, jalan dari tanah melalui lapangan voli ini menjadi satu-satunya akses para korban dari rumahnya menuju ke jalan kampung jika menggunakan kendaraan bermotor.

Pemerintah Desa Kalikatir berdalih, pembangunan pagar lapangan ini menjadi kesepakatan warga mereka. Pemerintah justru menyalahkan para korban yang menolak diberi akses jalan yang lebih sempit. (dtc/boy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *