Tanggapan RSUD Dr. Soetomo: Instalasi Tranfusi Darah Bukan Instalasi Emergency

oleh
Tangkapan layar, petugas Instalasi Transfusi Darah yang sedang bersitegang dengan keluarga pasien. (Facebook)

GLOBALINDO.CO, SURABAYA- Pihak Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya akhirnya buka suara soal layanan Instalasi Transfusi Darah (ITD) yang dikeluhkan oleh konsumen. Juru bicara Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo Surabaya, Urip Murtedjo menjelaskan jika sebenarnya Intalasi Transfusi Darah tidak termasuk dalam unit yang sifatnya emergency. Makanya letaknya berada di Gedung Gedung Diagnostic Center (GDC) bukan di Instalasi Rawat Darurat (IGD). Urip menyamakan sifat kedaruratan ITD seperti halnya unit radiologi.

Kata dia, dalam kasus kebutuhan darah untuk operasi pun, sebenarnya juga tidak terlalu darurat, karena jika terjadi pendarahan, maka tak melulu darah yang dibutuhkan, melainkan juga cairan lainnya. Kalaupun dokter meminta darah untuk kepentingan operasi, sejatinya tak langsung digunakan melainkan disimpan dulu. Darah itu baru akan digunakan jika HB pasien mengalami penurunan.

Namun, meski sifat kedaruratan ITD terlalu emergency, dia menyayangkan tiadanya petugas saat dibutuhkan masyarakat. “Manajemen akan menindak petugas yang bersangkutan. Sebenarnya memang instalasi tersebut tidak boleh kosong, harus ada petugas,” kata Urip.

Dokter berkacamata ini juga menjelaskan, jika ITD sebenarnya masih dalam masa transisi. Unit ini sebelumnya memang dikelola oleh Palang Merah Indonesia. Baru dalam setahun terakhir, unit ini dikelola sendiri oleh RSUD Dr. Soetomo.

“Ada kemungkinan saat ini masih masa transisi, masih kekurangan petugas, harus ditambah. Segala keluhan sudah kami sampaikan kepada Ketua Instalasi Transfusi Darah (ITD) dan manajemen rumah sakit,” tuturnya.

Sebelumnya, pengguna media sosial dihebohkan dengan video pendek yang sempat menjadi viral. Dalam video pendek tersebut, seorang keluarga pasien bersitegang dengan petugas ITD, karena saat dia datang, tak ada petugas yang berjaga.

Mereka beralasan, kekosongan petugas itu, karena masih sholat. Keluarga pasien itu, khawatir jika terlambat mendapatkan kantong darah, maka akan berbahaya untuk jalannya operasi salah satu keluarganya. “Ini menyangkut nyawa loh Mbak,” kata keluarga tersebut. (kpi/boy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *