Terbongkar, Penyebaran Wahabisme untuk Kepentingan AS Hadang Rusia

oleh
Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud bertemu dengan para tokoh aliran garis keras Wahabi.

GLOBALINDO.CO – Konspirasi Amerika Serikat dan Arab Saudi di balik penyebaran ajaran Wahabisme terbongkar. Arab Saudi sebagai negara produsen aliran garis keras Islam ini mengaku membantu Amerika Serikat menyebarkan Wahabisme demi menghadang  pengaruh Uni Soviet (kini Rusia) masuk ke negara Muslim.

Pengakuan itu terlontar langsung dari bibir Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Mohammed bin Salman, kepada Washington Post, kemarin. Putra Mahkota mengungkapkan Barat yang menjadi sekutu negaranya mendesak agar Arab Saudi membantu pembangunan masjid atau madrasah ala Wahabi di seluruh dunia selama Perang Dingin.

“Upaya ini dalam rangka mencegah pengaruh Uni soviet di negara Muslim,” kata Mohammed bin Salman saat melakukan lawatan ke Amerika Serikat yang dimulai Selasa, 20 Maret 2018, pekan lalu sebagaimana dikutip Russian Today, kemarin.

Arab Saudi mengaku diminta oleh negara Barat mendanai dan menyebarluaskan Wahabisme, sebuah paham yang mengajak umat Islam kembali ke ajaran Quran dan Hadis, ke seluruh dunia sebagai upaya menghadang Perang Dingin melawan Uni Soviet. Mohammed bin Salman juga mengatakan bahwa hampir seluruh bantuan untuk pengembangan Wahabisme itu berasal dari lembaga donor swasta, bukan dari pemerintah.

Putra Mahkota berusia 32 tahun ini menambahkan, Arab Saudi sempat kehilangan jejak atas upaya tersebut. “Tapi kami harus mendapatkannya,” ucap bin Salman.

Sikap Mohammed bin Salman menguak rahasia intervensi AS di negara muslim selama puluhan tahun ini adalah bagian dari manuvernya. Sejak dinobatkan sebagai Putra Mahkota, manuver bin Salman yang juga biasa diinisialkan MBS ini memang kerap membuat negeri Paman Sam ketar ketir.

Salah satu yang paling dikhawatirkan AS adalah komitmen MBS untuk merombak ekonomi Arab Saudi dengan mengubahnya dari ketergantungan yang besar pada minyak. Kemudian menyingkirkan korupsi sistemik di kerajaan dan memoderatkan masyarakat yang telah lama dipengaruhi oleh kelompok religius garis keras.

Makanya, tak heran jika beberapa waktu lalu, Arab Saudi melalui Duta Besarnya untuk RI, Syekh Osama bin Abdullah As-Suabi  mulai mendekati Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, ormas islam moderat sekaligus terbesar di tanah air. Dalam pertemuan dengan Ketum PBNU dan sejumlah pengurusnya, Syekh Osama As-Suaibi selain memuji menyatakan komitmen Kerajaan Arab Saudi bekerjasama dengan NU untuk mengembangkan Islam moderat.

Gerakan bin Salman lain yang membuat AS was-was adalah kebijakan luar negeri Arab Saudi yang jauh lebih agresif untuk melawan pengaruh saingan regional yaitu Iran. Setelah mengambil alih pada Juni, MBS berjanji untuk “berperang” dengan Iran, yang dituduh berusaha “mengendalikan dunia Islam”.

Pada 4 November 2017, puluhan pejabat senior Arab Saudi ditangkap dan ditahan karena diduga terlibat praktek korupsi. ini termasuk 11 menteri kabinet dan beberapa pengusaha kerajaan yang paling berkuasa.

Atas sejumlah manuvernya itu, Diplomat Amerika Serikat bersama pejabat dari Pentagon dan Central Intelligence Agency atau CIA menyebut Putra Mahkota Mohammed bin Salman telah bertindak ceroboh tanpa pertimbangan yang memadai terhadap kemungkinan konsekuensi dari kebijakannya.

MBS mulai dikenal luas setelah ditunjuk sebagai menteri Pertahanan pada Januari 2015. Langkahnya yang paling menonjol adalah meluncurkan Operation Decisive Storm, sebuah koalisi pimpinan Arab di Yaman untuk melawan kelompok Houthi, yang menguasai sebagian besar negara itu. (gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *