Terbukti Cabuli Anak Tiri, Ketua Komisi A DPRD Bangkalan Ditangkap Saat Pimpin Rapat

oleh
Ketua Komisi A DPRD Bangkalan, Kasmu ditangkap tim eksekutor Kejati Jatim saat memimpin rapat, Senin (21/1). Kasmu dinyatakan terbukti bersalah mencabuli anak tirinya sendiri yang masih berusia 15 tahun, berinisial Lcd pada tahun 2015 silam.
Ketua Komisi A DPRD Bangkalan, Kasmu ditangkap tim eksekutor Kejati Jatim saat memimpin rapat, Senin (21/1). Kasmu dinyatakan terbukti bersalah mencabuli anak tirinya sendiri yang masih berusia 15 tahun, berinisial Lcd pada tahun 2015 silam.

 

GLOBALINDO.CO, BANGKALAN – Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bangkalan, Kasmu, ditangkap tim Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, saat memimpin rapat di Gedung Dewan pada Senin (22/1). Kasmu dijebloskan ke Lapas Klas I Medaing usai Mahkamah Agung menyatakan politisi Partai Geridnra itu terbukti berbuat cabul.

Eksekusi terhadap Kasmu ini sejatinya terlambat. Sebab putusan MA Nomor 2645 K/Pid.Sus/2016 itu sudah dikirim ke Pengadilan Negeri Bangkalan pada Oktober tahun lalu.

“Karena putusannya sudah inkracht, kemudian dieksekusi jaksa,” kata Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Richard Marpaung.

Richard menjelaskan, tim jaksa eksekutor mendatangi kantor Kasmu bertugas di Gedung DPRD Bangkalan pada Senin siang. “Dieksekusi saat memimpin rapat. Tidak ada perlawanan dari terpidana yang kami eksekusi. Yang bersangkutan dibawa ke Lapas Porong,” kata Richard.

Dalam putusannya, MA mengabulkan kasasi JPU dan membatalkan putusan Pengadilan Negeri Surabaya. MA menyatakan, Anggota DPRD asal Dusun Trebung Barat, Desa Pekadan, Kecamatan Galis, Bangkalan, itu dihukum 7,5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta karena terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana membujuk anak untuk melakukan perbuatan cabul.

Jika denda tersebut tidak dibayar, gantinya adalah pidana penjara selama enam bulan. MA menetapkan masa penahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangkan seluruhnya dengan pidana yang dijatuhkan.

Perkara yang membelit Kasmu berawal dari penggerebekan petugas tim Kepolisian Daerah Jawa di Hotel Oval Surabaya, 2 Februari 2015. Waktu itu, polisi menyelidiki kasus penembakan aktivis di Bangkalan, Madura.

Nah, di salah satu kamat hotel, polisi memergoki Kasmu bersama perempuan di bawah umur. Ia diadili dengan dakwaan pencabulan.

Barang bukti (BB) yang disebutkan di antaranya, sebuah seprai putih dan handuk putih. Selain itu, BB yang dirampas untuk dimusnahkan. Antara lain, satu lembar bill Hotel Elmi kamar 515, 516, dan 517 atas nama Kasmu.

Bukti lainnya, satu lembar bill Hotel Oval nomor 816, scan KTP, dan satu bendel registration card atas nama Ardi Alfarisi. Terdakwa dibebani pembayaran biaya perkara pada tingkat kasasi Rp 2.500.

Di pengadilan tingkat pertama, Kasmu dinyatakan tidak terbukti melakukan perbuatan cabul. Jaksa Penuntut Umum Kejari Surabaya lalu kasasi ke Mahkamah Agung dan dikabulkan.

Dalam berkas tuntutan disebutkan Kasmu terbukti mencabuli anak tirinya sendiri berinisial Lcd yang masih berusia 15 tahun di salah satu kamar Hotel Oval, Surabaya. Kasmu dinilai melanggar Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 sebagai perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (bs/ady)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *