Terdakwa Peredaran Sabu Seberat 50 Kg Terancam Hukuman Lebih Berat

oleh
terdakwa kasus peredaran narkoba Yoyo saat menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.
Terdakwa kasus peredaran narkoba seberat 50 Kg, Hadi Sunarti (Yoyok) saat menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya tadi siang.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Pernyataan berubah-ubah disampaikan terdakwa kasus peredaran sabu saberat 50 Kg, Hadi Sunarti alias Yoyok saat kembali menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (15/5/2017).

Dihadapan majelis hakim yang diketuai Hariyanto, terdakwa Yoyok mengaku bukan orang berduit. Sehingga tidak mungkin mampu membeli sabu 50 Kg yang kemudian diedarkan melalui Aiptu Abdul Latip.

“Pengacara saja tidak saya bayar, apalagi buat kulakan sabu,” ujar Yoyok saat ditanya hakim anggota Yulisar.

Mantan penghuni Lapas Nusakambangan ini juga membantah mempunyai Hand Phone yang digunakan komunikasi dengan Susi. Anehnya, dia mengakui jika barang bukti berupa flesdisk, powerbank dan chip internet itu miliknya.

Warga Kertajaya IX B Surabaya ini berdalih, selama ini saat ingin berkomunikasi dengan keluarganya cukup menggunakan wartel yang ada di LP Nusa Kambangan. Tapi pembenaran itu malah membuat hakim Yulisar curiga.

“Kalau tidak punya HP kenapa kamu punya powerbank,” tanya Hakim Yulisar.

Tidak hanya itu, Yoyok juga mengaku tidak mengenal tiga orang jaringannya yang sebelumnya telah divonis hukuman mati oleh PN Surabaya. Ketiganya adalah Indri Rahmawati, Aiptu Abdul Latif dan Tri Diah Torriasih alias Susi.

“Susi bukan istri saya, dan saya tidak pernah bertemu dengannya. Saya juga tidak mengenal Abdul latip dan Indri Rahmawati,” sangkal Yoyok menjawab pertanyaan Hakim Sigit Sutriono selaku hakim anggota yang menyidangkan perkara ini.

Keterangan Yoyok yang sering berubah-ubah sejak pemeriksaan saksi hingga pemeriksaan terdakwa dinilai majelis hakim Hariyanto merupakan hal yang wajar.

“Wajar kalau kamu berbohong tapi hakim punya penilaian sendiri pada keteranganmu dan saksi saksi lainnya, jangan sampai malah memperberat hukumanmu”ujar Hakim Hariyanto yang diakhiri dengan pukulan palu sebagai tanda berahkirnya persidangan.

Usai persidangan, JPU Gusti Putu Karmawan mengaku telah mempersiapkan tuntutan bagi terdakwa Yoyok. “Sudah siap, pada persidangan berikutnya akan saya bacakan,”ujar Jaksa kelahiran Bali.

Seperti diketahui, Yoyok adalah narapidana kasus narkotika yang menghuni LP Nusa Kambangan. Yoyok kembali tersangkut kasus serupa setelah Reskoba Polrestabes Surabaya berhasil mengagalkan peredaran narkotika dari tangan Aiptu Abdul Latip dan Indri Rahmawati serta Tri Torriasih alias Susi.

Dari 50 Kg sabu yang disupaly dari Yoyok, Polisi hanya berhasil menyita 13 kg sabu saja. Pasalnya yang 37 Kg sabu tersebut sudah terjual melalui tangan Abdul Latip dan Indri Rahmawati.

Proses hukum Yoyok terkesan lambat dari ketiga jaringannya. Yoyok baru didudukan sebagai pesakitan saat ketiga jaringannya sudah dihukum oleh Hakim PN Surabaya.

Oleh Hakim PN Surabaya, Aiptu Abdul Latief telah divonis mati dan Vonis tersebut diperkuat Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya setelah dia mengajukan upaya hukum. Kini kasusnya masih dalam proses kasasi di Mahkamah Agung (MA)

Sementara, Indri Rahmawati divonis seumur hidup oleh PN Surabaya, tapi oleh PT Surabaya diperberat menjadi hukuman mati. Tak terima atas vonia mati tersebut, Indri akhirnya mengajukan kasasi ke MA.

Sedangkan vonis Tri Diah Torriasih alias Susi malah berbalik, oleh PT Surabaya, Vonis Susi diturunkan dari hukuman mati ke hukuman seumur hidup. Turunnya vonis tersebut langsung dikasasi oleh Kejari Surabaya. (Adi/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *