Teroris Anak Buah Santoso Ditembak Mati di Pare Terkenal Sadis

Tembak Mati: Tim Densus 88 Mabes Polri dibantu Jatrantas Polda Jatim menembak mati seorang terduga teroris kelompok Santoso di Pare, Kediri karena melawan dan menembaki polisi saat ditangkap.

GLOBALINDO.CO, KEDIRI – Datasemen Khusus Antiteror 88, Senin (13/3) melakukan serangkaian penggerebekan dan penangkapan sejumlah orang yang diduga terlibat jaringan teroris. Bukan hanya di Bandung, pasukan khusus antiteror juga menembak mati seorang terduga teroris di Kampung Inggris, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur yang diketahhui bernama Roni alias Jaka alias Fuad alias Mas Tato (36).

Peristiwa penangkapan terduga teroris terjadi sekitar pukul 10.45 WIB di Jalan Asparaga/51 Dusun Tegalsari, Desa Tulungrejo. R ditangkap, kala menunggangi sepeda angin, sepulang dari tempat kursus Al-Ashriyah di Jalan Asparaga.

“Sebenarnya akan dilakukan penangkapan. Tapi dia melawan dan mengeluarkan tembakan. Akhirnya  terpaksa dilumpuhkan petugas Densus yang dibantu teman-teman dari Jatanras Polda Jatim,” terang Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Anas Yusuf usai Salat Jumat di Masjid Nurul Huda Mapolda Jawa Timur.

Kapolda menambahkan, dari tempat kejadian, tim Densus mengamankan barang bukti berupa senjata api dan amunisi yang dibawa oleh yang bersangkutan

Sejatinya, Densus 88 sudah mengincar Roni cukup lama. Tetapi keberadaan Warga Toli-toli, Sulawesi Tengah baru terlacak di Kampung Inggris, Pare, Kabupaten Kediri, sejak Februari 2017.

Roni merupakan anak buah gembong teroris Santoso. Menurut Kapolda Jatim, tersangka Roni tergolong komplotan teroris yang dikenal sadis. Tersangka bahkan tak segan membunuh polisi.

“Dia ini (Roni) mungkin sadis. Dia tak segan menggorok anggota polisi seperti kejadian di Poso, serta kejadian yang sama di tempat lain,” tutur Irjen Anas.

Dari rekam jejak yang tercatat di kepolisian, Roni terlibat dua anggota Polres Poso yakni Brigadir Andi dan Aiptu Sudirman di Tamanjeka. Ia juga menjadi eksekutor penembakan Brigadir M Yamin.

Tak sampai di situ, Roni juga dianggap mengetahui perencanaan penembakan Kapolsek Ambalwi, Polres Bima dengan meminjamkan senpinya, serta ikut aktif dalam pelatihan militer di Poso bersama Santoso.

Sayangnya, Irjen Anas mengaku belum mengetahui jaringan Roni yang lain, termasuk keberadaan keluarganya.

“Kita belum tahu informasinya. Tapi yang jelas, di Kediri menjadi tempat pelariannya. Petugas sudah menguntitnya selama sekitar satu bulan, hingga berhasil membekuknya di Kediri,” terang mantan Wakabareskrim Mabes Polri ini. (vin/gbi)

Tags: