Tiga Terdakwa Kasus Penipuan Rp 2,8 M Makin Terpojok

oleh
Para terdakwa ketika menjalani persidangan

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Kasus tipu gelap yang dilakukan tiga terdakwa mantan karyawan PT Jaya Baru Malanti dan PT Bina Baru Malanti, Akhmad Cipak, Imam Ghozali dan Supiyani kembali disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Pada agenda pemeriksaan saksi fakta, lima saksi dihadirkan Jaksa Penuntut Umum, Ni Putu Parwani dari Kejati Jatim. Dalam persidangan kali ini dipimpin oleh Ketua Majelis I Wayan Sosiawan.

Saksi pertama, Nabil yang juga menjabat sebagai kepala cabang perwakilan di Samarinda mengatakan, dirinya hanya sebagai perantara antara terdakwa Imam Ghozali yang menjabat kepala operasional di Samarinda dan terdakwa Supiyani sebagai kepala marketing di Surabaya.

“Saya sebetulnya cuma perantara saja, pengajuan biaya doring (bongkar muat) Imam yang menghitung dan mengajukan. Setelah itu saya yang mengirimkan pengajuan Imam ke Surabaya, kepada bu Yani sebagai kepala marketing yang menentukan biaya doring,” jelas Nabil.

Apabila biaya doring yang diajukan terdakwa Imam disetujui, maka biaya doring tersebut dikirim kepadanya. Setelah itu, biaya yang sudah ditransfer oleh bu Yani langsung diberikan kepada terdakwa Imam.

Kemudian Imam yang membayarkan uang tersebut kepada supir dan kuli. Adapun pembayaran biaya doring oleh Nabil kepada terdakwa Imam dilakukan dengan cara transfer dan tunai sesuai pengajuan terdakwa Imam.

Awal kecurigaan saksi Nabil berawal pada tahun 2014, namun hal ini tidak berani ia sampaikan kepada pemilik Abdul Aziz Malanti. Hal ini dikarenakan Nabil merasa kalah senior, sehingga dirinya merasa tidak enak apabila melaporkan para seniornya tersebut.

Akhirnya saksi Nabil mengetahui adanya selisih ketika coba menanyakan kepada supir besarnya biaya doring tersebut.

“Saya kasihkan ke Imam sesuai pengajuan dia. Terus ketika saya tanyakan ke sopir ternyata jumlahnya tidak sesui dengan pengajuan ke kantor Surabaya,” jelas Nabil lebih lanjut.

Ketika kebenaran keterangan saksi kepada ketiga terdakwa, ternyata para terdakwa kompak menjawab tidak benar. Terdakwa Imam dan Supiyani mengaku bukan sebagai penentu biaya doring. Yang menentukan biaya doring adalah Abdul Azis dan Nabil.

Terpisah, ketika giliran 4 saksi lainnya ketika ditanya oleh JPU Parwati, mengatakan bahwa yang menentukan biaya doring adalah terdakwa Imam. Uang yang di bayarkan kepada mereka sudah sesuai standar di Samarinda, sesuai kesepakatan dengan terdakwa Imam.

Akan tetapi biaya doring yang diajukan Imam lebih besar dari yang dibayarkan kepada sopir dan kuli. “Yang menentukan biaya doring itu Imam pak hakim. Sudah sesuai kesepakatan,” jelas Zakaria salah satu saksi yang bekerja sebagai supir.

Perlu diketahui, ketiga terdakwa diduga melakukan penggelapan setelah Abdul Azis Malanti mengaudit keuangan perusahaan melalui audit internal dan eksternal. Dari audit tersebut ditemukan selisih sekitar 2,282 miliar.

Usai Sidang Kuasa Hukum ketiga terdakwa, Sumardhan Kepada wartawan mengatakan jika perkara dugaan penipuan senilai Rp. 2,282 miliar terkesan dipaksakan.

“Perkaranya itu dipaksa. Syarat formilnya itu tidak terpenuhi. Sedangkan syarat materiil harus disebut secara jelas uang 2,282 miliar dipakai untuk apa, kemana. Apa global uang 2 m,” tukasnya

Sumardhan menambahkan, terkait kerugian materiil harus dirinci dengan jelas dan tepat. Tak hanya itu, Sumardhan menilai jika dakwaan milik jaksa kabur.

“Uang itu dipakai untuk apa harus jelas. Ini perkaranya seharusnya tidak boleh dinaikkan,” tambahnya.

Dari surat dakwaan jaksa, ketiga terdakwa diancam hukuman sebagaimana diatur dalam pasal 372 dan 378 KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke -1 KUHP. (Ady/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *