Tiga Terdakwa Penipuan Kredit Fiktif Bank CTBC Dituntut Besok

oleh
Kepala Cabang Bank CTBC Surabaya Fransisca Leonora Wiharjo yang bersaksi di sidang pemalsuan kredit (kredit bodong) di Bank CTBC dengan terdakwa Rudi Desmon Tampidi PN Surabaya, Senin (12/2) lalu.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Tiga terdakwa kasus penipuan kredit fiktif Bank CTBC akan menghadapi sidang tuntutan jaksa di Pengadilan negeri Surabaya, Kamis besok (5/4). Kasus ini diduga merugikan Bank CTBC senilai Rp 16,3 miliar.

Ketiga terdakwa yakni Rudy Desmond Tampi, Budi Anak Robert Taning  serta Ade Dian Sanura. Mereka merupakan pegawai bagian Account Officer (AO) dan Sales Officer (SO) di Bank CTBC.

“Sidang perkara penipuan dan pemalsuan pengajuan kredit fiktif Bank CTBC kamis besok memasuki agenda tuntutan” ujar Panitera Pengganti (PP), Didik Dwi Riyanto saat dikonfirmasi diruang Tirta I PN Surabaya, Rabu (4/4).

Pada sidang sebelumnya, Senin pekan lalu (26/4), dua saksi ahli didatangkan oleh kuasa hukum terdakwa, Agus Dwi S. Dua saksi ahli itu yakni, saksi perbankan dari Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Dr. Dra. Liosten R.R Ully Tampubolon, dan saksi ahli dari Analis Perbankan Yohanna Anggita Novelina Simorangkir.

Saksi ahli Analis Perbankan Yohanna Anggita Novelina Simorangkir mengatakan jika SOP dan peraturan perbankan soal proses pencairan kredit harus sepengetahuan pimpinan cabang. (Caca: Kacab Bank CTBC Disebut Terlibat Penggelapan Kredit Macet Rp 16,3 Miliar).

“Karena pimpinan cabang sebagai pengendali atau kontrol di Bank tersebut dan kacab mempunyai wewenang untuk memutuskan pengajuan kredit,” ujar analis perbankan Yohanna Anggita Novelina Simorangkir menanggapi pertanyaan kuasa hukum terdakwa, Senin (25/3). Selanjutnya pengajuan tersebut dikirimkan kepada bagian Analis Kredit Bank CTBC Jakarta.

Yohanna menambahkan, jika Pimpinan Cabang sebuah Bank merupakan pejabat Bank yang berwenang membuat putusan dan mewakili Bank tersebut. Dalam hal ini Pimpinan Cabang wajib mengetahui proses pengajuan dan realisasi pencairan kredit.

“Pimpinan cabang, akan melakukan review apakah pengajuan kredit tersebut layak untuk di analisa serta diajukan kepada Bank CTBC Jakarta pada bagian Analis Kredit. Dari bagian Analis Kredit itu yang ada di Jakarta lantas melakukan verifikasi dan kefalitan data, jika disetujui, maka akan dkeluarkan surat perjanjian kredit dengan pimpinan cabang” tambahnya.

Kuasa Hukum Agus Dwi S SH juga menanyakan hal yang sama kepada saksi ahli dari Universitas Dr. Soetomo Surabaya Dr. Dra. Liosten R.R Ully Tampubolon soal pencairan kredit sebuah Bank yang tidak diketahui oleh pimpinan cabang CTBC.

“Fungsi Pimpinan cabang sebagai kepala yang harus mengetahui semua transaksi keuangan perbankan, maka pimpinan cabang juga berhak melakukan analis apakah memang nasabah ini layak untuk diberikan pinjaman atau tidak” ujar guru besar Unitomo.

Liosten menambahkan bahwa perbankan harus memiliki system pengendali interen untuk mengamankan masalah yang tidak dikehendaki. Untuk tugas final pengendali interen itu ketika realisasi pencairan kredit, pihak nasabah harus datang dan wajib membawa dokumen Asli. KTP, KSK, Surat gaji setelah dicocokan oleh bagian legal.

”Tugas legel memeriksa semua dokumet tersebut,” ucapnya.

Menurut Liosten, pimpinan cabang adalah pengendali internal bank yang mengetahui semua proses dan mekanisme di banknya. Termasuk pengajuan kredit sekecil apapun juga harus sepengetahuan kepala cabang.

“Dengan System pengendali interen ketat dan  berlapis-lapis tersebut maka kejahatan perbankan akan bisa diminimalisir” ujar Liosten.

Dosen guru besar Unitomo ini menilai bahwa dalam berita acara perkara ini Bank CTBC memiliki system keamanan yang sangat lemah jika dilihat dari proses pencairan kredit yang tanpa diketahui pimpinan cabang Bank tersebut.

“Berdasarkan data dari berita acara ini, sungguh bahwa Bank ini sangat lemah sekali.  Seorang SD-pun ketika melihat proses system SOP seperti ini itu akan menimbulkan peluang kejahatan” Katanya.

Perlu diketahui, Kepala Cabang Bank CTBC Surabaya Fransisca Leonora Wiharjo disebut-sebut terlibat dalam perjanjian MoU pengajuan kredit fiktif yang dilakukan oleh tiga mantan pengawai Bank CTBC di bagian Account Officer (AO) dan Sales Officer (SO) yang bersekongkol dengan 13 perusahaan di Surabaya untuk mengajukan kredit fiktif.

Pada kerjasama itu, tiga terdakwa melakukan pemalsuan dokumen pengajuan kredit yang telah merugikan Bank CTBC Jakarta senilai Rp 16,3 miliar. (ady)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *