Utang Pemerintah Tembus Rp 4,169 Triliun, Prabowo Rp 9.000 Triliun

oleh
Data Utang Luar Negeri RI yang dikritik Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Utang pemerintah pusat pusat per Mei 2018 atau naik 13,55 persen secara tahunan (yoy) menjadi sebesar Rp 4.169,09 triliun dengan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 29,58 persen. Namun angka tersebut turun jika dibanding total utang pada bulan sebelumnya yang mencapai Rp 4.180,61 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, banyak pihak yang menjadikan besarnya jumlah utang tersebut sebagai bahan kritikan terhadap pemerintah. Karena itu pihaknya akan tetep mengelola keuangan negara dengan hati-hati.

“Pemerintah tetap akan menjaga pengelolaan keuangan negara dan APBN secara hati-hati melalui peraturan perundang-undangan, mengikuti indikator kesehatan keuangan, sehingga kami bisa jaga terus dengan baik,” kata Ani dalam konferensi pers APBN KiTa di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (25/6).

Berdasarkan dengan UU, kata Sri Mulyani, total nominal utang pemerintah pun masih jauh dari batas yang ditetapkan. Di mana, batas yang diatur maksimal 60% terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Dibanding seluruh PDB tetap di bawah 29% kan sekitar itu,” ungkapnya.

Menkeu menjelaskan, bahwa utang pemerintah harus dibedakan dengan utang korporasi maupun utang rumah tangga. Artinya tidak bisa disamakan atau tidak bisa dibandingkan dengan hal yang tidak sesuai.

“Jadi kalau membahasnya harus konsisten saja. Kalau utang korporasi dibandingkan dengan koorporasinya, kalau BUMN ya dibandingkan total BUMN nya. Kalau rumah tangga dibandingkan dengan rumah tangga,” ujar Sri Mulyani.

Jika dirincikan utang pemerintah itu terdiri dari pinjaman sebesar Rp 767,82 triliun dan Surat Berharga Negara sebesar Rp 3.401,77 triliun. Rasio utang terhadap PDB ditetapkan 29,58 persen dari asumsi total PDB hingga Mei 2018 sebesar Rp 14.092,72 triliun.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Gerindra mengklaim total utang RI sampai hari ini hampir Rp 9.000 triliun. Mengutip data Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Prabowo menampilkan slide tentang utang RI yang menunjukkan asumsi Kurs Rp 14.000 per US$ 1; Per Tutup Tahun 2017′.

“Utang-utang kita sudah sangat membahayakan. Selain utang pemerintah, ada utang lembaga-lembaga keuangan milik pemerintah dan utang-utang BUMN. Kalau dijumlahkan sungguh sangat besar,” ucap Prabowo di Jl Widya Chandra IV, Jakarta, Senin (25/6). Pernyataan ‘berbahaya’ itu disampaikan Prabowo dengan mengutip data lembaga Moody’s yang jadi sumber rujukan berita Bloomberg.

Slide itu menampilkan data utang pemerintah, BUMN, dan lembaga keuangan publik. Total utang tiga sektor itu dihitung Prabowo hampir Rp 9.000 triliun.

“Utang pemerintah memang Rp 4.060 triliun, tapi ada utang BUMN ditambah Rp 600 triliun. Ditambah lagi utang lembaga keuangan publik, Rp 3.850 triliun. Kalau kita jumlahkan ya hampir Rp 9.000 triliun,” ucap dia. (vin/mun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *