Wah, Penggusuran Kalijodo Ternyata Ide Tito

oleh
Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kanan) saat masih menjabat Kapolda Metro Jaya berjabat tangan dengan Gubernur DKI Basuki Tjhaja Purnama (Ahok). Tito secara mengejutkan membuat pengakuan jujur bahwa ide penggusuran kawasan prostitusi Kalijodo datang darinya.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kanan) saat masih menjabat Kapolda Metro Jaya berjabat tangan dengan Gubernur DKI Basuki Tjhaja Purnama (Ahok). Tito secara mengejutkan membuat pengakuan jujur bahwa ide penggusuran kawasan prostitusi Kalijodo datang darinya.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kanan) saat masih menjabat Kapolda Metro Jaya berjabat tangan dengan Gubernur DKI Basuki Tjhaja Purnama (Ahok). Tito secara mengejutkan membuat pengakuan jujur bahwa ide penggusuran kawasan prostitusi Kalijodo datang darinya.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Pengakuan mengejutkan datang dari Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian. Setelah beberapa bulan berlalu, Tito mengakui jika penggusuran kawasan prostitusi Kalijodo, Jakarta Utara pada Mei 2016 lalu bermula dari idenya yang disetujui Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Pengakuan ini disampaikan Tito dalam sebuah acara dialog antar umat beragama di Kantor Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC), Jakarta Pusat, Kamis (4/8).

“Penggusuran Kalijodo itu kepentingan saya. Ada korban ketabrak oleh mobil yang pulang minum-minum dari Kalijodo, dari sana awalnya,” ujar Tito. Pengakuan Tito ini menjawab pertanyaan Lius Sungkharisma dari Koordinator Komunitas Tionghoa Anti Korupsi.

Lius menyinggung jika penggusuran di Kalijodo beberapa waktu lalu, Tito dijadikan sebagai alat oleh Ahok untuk kepentingannya sebagai gubernur. Kala terjadi penggusuran Kalijodo, Tito masih menjabat Kapolda Metro Jaya.

Menurut Tito, niatnya menggusur Kalijodo langsung disambut Ahok, meski Gubernur DKI itu sempat ragu. Tito mengatakan, Ahok takut akan banyak perlawanan apalagi daerah itu jadi sarang para preman.

“Saya bilang ke Pak Ahok, nggak usah masuk. Biar kami yang main, kami perkirakan ada ratusan preman di sana, ya sudah kami turunkan 4.000 orang. Langsung penuh itu Kalijodo,” ujarnya.

Kemujdian, Tito menanyakan pada Ahok rencana selanjutnya setelah Kalijodo diratakan. Tito menerangkan, ketika itu dirinya merasa senang mendengar jawaban Ahok yang akan membangun taman dan RPTA.

“Paling mudah menggusur lokalisasi daripada pemukiman masyarakat. Di sana semuanya lengkap, ya prostitusinya, judinya, premanismenya, narkotikanya,” jelas Tito.

Lebih jauh soal hubungannya dengan Ahok yang dikenal cukup mesra, Tito merasa tak nyaman. Menurutnya, hubungannya dengan Ahok adalah sebuah kewajiban sebagai petinggi di suatu daerah. Ia menyebutkan, jika hubungan baik dengan Ahok tak terjaga, sudah pasti Jakarta kacau balau.

“Semua petinggi harus saling dukung, Polisi, TNI, dan pemerintahan harus saling dukung,” kata mantan Kapolda Papua ini. (lpn/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.