Wow, Menteri Susi Pudjiastuti Tenggelamkan 189 Kapal Pencuri Ikan

Susi-PudjiastutiGLOBALINDO.CO, JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan di era Menteri Susi Pudjiastuti memang cukup menggebrak. Dengan penuh keberanian, menteri perempuan ini telah menenggelamkan 189 kapal pencuri ikan.

Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan Secara Ilegal (Satgas 115) merinci, 176 kapal pencuri ikan telah ditenggelamkan dan 13 kapan lainnya sedang menunggu giliran.

“Berdasarkan data Satgas 115, tercatat 176 kapal ikan pelaku illegal fishing telah ditenggelamkan oleh Satgas 115 melalui unsur-unsur TNI Angkatan Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan dan BAHARKAM Polri,” kata Susi Pudjiastuti dalam konferensi pers di rumah dinasnya, Jl Widya Candra, Jakarta Selatan, kemarin.

Dari 176 kapal pencuri ikan yang telah ditenggelamkan, 162 kapal ikan berkebangsaan asing seperti Vietnam, Flipina, Thailand, Malaysia dan RRT.

“Jumlah kapal yang siap atau akan ditenggelamkan berjumlah 13 kapal,” ucapnya.

Dari 13 kapal tersebut, 5 di antaranya ditangani oleh PSDKP, 2 ditangani oleh TNI AL, dan 6 ditangani oleh Polair.

“Hal ini menunjukkan banyaknya kapal ikan asing yang melakukan penangkapan ikan secara ilegal di perairan Indonesia,” tegas Susi.

Di sisi lain, Susi Pudjiastuti juga memaparkan hasil dari sesi ke-25 Sidang Komisi Pencegahan Kejahatan dan Peradilan Pidana (Commission on Crime Prevention and Criminal Justice-CCPCJ) di Wina, Austria pada 23 Mei 2016 lalu. Di forum tersebut, Susi membawa satu isu penting.

“Yaitu kejahatan transnasional perikanan terorganisir sebagai bentuk kejahatan transnasional yang sedang berkembang,” paparnya.

Transnational Organized Fisheries Crime (TOFC) merupakan ancaman bagi seluruh dunia. Keadaan tersebut diperburuk oleh rendahnya komitmen nyata negara-negara untuk memerangi kejahatan tersebut. Kejahatan perikanan (fisheries crime) ditemukan dari kegiatan perikanan yang ilegal (illegal), tidak dilaporkan (unreported), dan tidak diatur (unregulated) atau yang biasa disebut dengan IUU Fishing.

Kerugian yang ditimbulkan akibat kegiatan IUU Fishing ini sangatlah besar, mulai dari kerugian ekonomi nasional yang mencapai 20 miliar Dolar AS, penurunan jumlah nelayan dalam periode 10 tahun (2003 – 2013), yaitu dari 1,6 juta nelayan menjadi hanya 800.000 nelayan, dan menipisnya sumber daya kelautan dan perikanan dunia hingga mencapai 90,1% berdasarkan data FAO.

“Saya membagikan pula pengalaman Indonesia yang menunjukkan bahwa banyak pihak yang melakukan kejahatan perikanan ini terlibat pula dalam aktifitas kejahatan transnasional terorganisir lainnya seperti pencucian uang, suap, penyelundupan obat-obatan terlarang, perdagangan orang, kejahatan perpajakan, penyelundupan barang-barang, dan penyelundupan satwa langka yang dilindungi,” jelas Susi.

Dalam kesempatan tersebut, Susi menekankan perlunya memperkuat kerjasama negara-negara untuk memerangi kejahatan terorganisir lintas batas yang makin berkembang terutama kejahatan perikanan dan kejahatan terkait perikanan lainnya seperti perdagangan gelap benda-benda budaya, flora dan fauna yang dilindungi, dan kejahatan siber.(dtc/ziz)