Zimbabwe Bergolak, Militer Kuasai Jalanan hingga Pemerintahan

Presiden Zimbabwe bersama sang Panglima Militer saat berbincang dalam sebuah kesempatan.

GLOBALINDO.CO, HARARE – Wilayah Zimbabwe sedang bergolak saat ini. Militer terus merangsek mengambil-alih kekuasaan. Penambilalihan itu dilakukan dari jalanan hingga ke pusat pemerintahan.

Sejumlah pasukan militer di bawah komando Panglima Angkatan Militer Zimbabwe, Jenderal Constantino Chiwenga telah menduduki kantor pusat stasiun televisi nasional Zimbabwe, ZBC. Beberapa staf ZBC diamankan ketika para tentara mengambil alih kantor mereka di Ibu Kota Harare, sebagaimana dilaporkan beberapa sumber kepada kantor berita Reuters, Rabu (15/11/2017).

Militer mengatakan pada semua karyawan agar tidak khawatir karena tentara ada di situ untuk melindungi. Beberapa saat kemudian, berbagai saksi melaporkan tiga ledakan di pusat kota, namun penyebabnya belum dapat dipastikan.

(Baca Juga: Kudeta Militer Turki: 42 Orang Tewas, 130 Ditangkap)

Di sisi lain, suara tembakan dilaporkan terdengar dari dekat kediaman Presiden Robert Mugabe di Harare, Rabu (15/11/2017).

“Dari arah kediaman Presiden kami mendengar ada 30-40 kali suara tembakan,” kata seorang warga yang tinggal di sekitar rumah pribadi Mugabe di pinggiran kota Borrowdale kepada AFP.

Pejabat militer Zimbabwe melalui televisi negara mengatakan, Presiden Mugabe dalam keadaan selamat dan menegaskan negara tidak sedang mengalami kudeta.

“Ini bukan militer yang mengambil alih pemerintahan. Kami ingin meyakinkan negara bahwa Presiden dan keluarganya dalam keadaan selamat dan keamanan mereka terjamin. Kami hanya mengincar kriminal yang ada di sekitar Presiden. Segera setelah misi tercapai, kami harap situasi akan kembali normal,” kata salah seorang jenderal militer sambil membaca pernyataan.

Hingga kini belum ada pernyataan langsung dari Presiden Zimbabwe yang berusia 93 tahun, Robert Mugabe.

Peristiwa ini terjadi tatkala partai berkuasa Zimbabwe, Zanu-PF, menuding panglima bersenjata Jenderal Constantino Chiwenga telah melakukan makar lantaran memperingatkan bahwa intervensi militer dimungkinkan. Chiwenga mengatakan, militer siap beraksi untuk mengakhiri konflik di Partai Zanu-PF.

“Kami harus mengingatkan mereka yang berada di balik kekonyolan berbahaya ini bahwa apabila masalahnya sudah masuk dalam melindungi revolusi kita, militer tidak akan ragu-ragu bertindak,” kata Chiwenga.

Chiwenga menentang Presiden Robert Mugabe yang memecat Wakil Presiden Emmerson Mnangagwa, pekan lalu. Sebelumnya, Mnangagwa digadang-gadang bakal meneruskan kepemimpinan Mugabe, namun asumsi itu memudar seiring dengan munculnya rumor bahwa Ibu Negara Grace Mugabe akan menjadi presiden.

Ketegangan politik kemudian meningkat drastis. Pada Selasa (14/11), sejumlah kendaraan lapis baja terlihat berada di berbagai titik di pinggir Kota Harare. Pihak militer tidak mengungkap apa tujuan mengerahkan kendaraan-kendaraan tersebut.

Duta Besar Zimbabwe untuk Afrika Selatan, Isaac Moyo, membantah telah terjadi kudeta. Dia berkeras pemerintah Zimbabwe dalam keadaan “utuh” dan narasi kudeta “hanya merupakan klaim di media sosial”.

Di pihak lain, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan “memantau dari dekat” situasi di Zimbabwe dan mendesak semua pihak menyelesaikan perseteruan dengan “damai dan tenang”.

Kedutaan Besar AS d Harare merilis cuitan bahwa gedung kedutaan ditutup pada Rabu (15/11) menyusul “ketidakpastian yang sedang berlangsung”.(kcm/dtc/ziz)