Juni 4, 2026

Globalindo.co – Harapan Baru Indonesia & Portal Berita Terkini

Globalindo.co menyajikan berita terbaru, opini mendalam, dan informasi strategis mengenai perkembangan ekonomi, politik, dan sosial sebagai harapan baru bagi kemajuan Indonesia.

Halmahera: Tiga Pendaki Meregang Nyawa Akibat Erupsi Eksplosif

Halmahera: Tiga Pendaki Meregang Nyawa Akibat Erupsi Eksplosif | HALMAHERA UTARA – Langit biru di atas Kabupaten Halmahera Utara mendadak berubah menjadi kelabu pekat saat Gunung Dukono meletus hebat pada Jumat pagi (8/5/2026). Aktivitas vulkanik yang meningkat secara mendadak ini berujung pada peristiwa memilukan yang merenggut nyawa tiga orang pendaki. Kejadian ini menjadi duka yang sangat mendalam bagi komunitas petualang, sekaligus membuktikan betapa dinamis dan berbahayanya karakter salah satu gunung paling aktif di Maluku Utara tersebut.

Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa letusan terjadi tanpa didahului oleh rentetan aktivitas prekursor yang panjang, sehingga para pendaki yang berada di kawasan puncak tidak memiliki waktu cukup untuk menyelamatkan diri. Tragedi ini menyoroti risiko tinggi bagi siapa saja yang beraktivitas di sekitar kawah gunung api, meskipun statusnya masih berada di level menengah.

Kronologi Kejadian dan Profil Korban

halmahera-tiga-pendaki-meregang-nyawa-akibat-erupsi-eksplosif

Suasana mencekam menyelimuti area jalur pendakian tepat pada pukul 07.41 WIT. Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), kawah Dukono melepaskan energi magmatik yang sangat kuat dengan tinggi kolom abu mencapai 10.000 meter di atas puncak. Jika dihitung dari permukaan laut, material vulkanik tersebut menyembur hingga ketinggian 11.087 meter, disertai dentuman keras yang terdengar hingga radius puluhan kilometer.

Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, memberikan keterangan resmi mengenai jatuhnya korban jiwa dalam bencana ini. Dari hasil pemeriksaan sementara, diketahui bahwa dua dari tiga korban meninggal merupakan warga negara asing, sementara satu lainnya adalah warga domestik.

“Sangat disayangkan, tiga orang ditemukan tidak bernyawa di jalur pendakian. Berdasarkan manifes dan data identifikasi awal, dua korban berasal dari Singapura dan satu orang warga lokal asal Jayapura,” jelas AKBP Erlichson dalam konferensi pers pada Jumat sore. Pihak kepolisian saat ini masih menunggu koordinasi dari pihak kedutaan besar serta keluarga masing-masing korban sebelum merilis identitas lengkap demi menjaga privasi ahli waris.

Perjuangan Tim SAR Menembus Hujan Abu

Di balik hilangnya tiga nyawa tersebut, perjuangan untuk menyelamatkan korban lain juga berlangsung secara dramatis. Sedikitnya lima pendaki dilaporkan mengalami cedera serius dan berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat namun membutuhkan penanganan medis segera. Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menyebutkan bahwa tim gabungan terus berupaya menyisir seluruh sudut lereng gunung.

Personel dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Basarnas diterjunkan langsung ke lokasi untuk mencari kemungkinan adanya pendaki lain yang masih tertinggal. Proses evakuasi sendiri terhambat oleh medan yang sangat terjal serta tebalnya lapisan abu panas yang menutupi jalur resmi pendakian.

Situasi terkini di lapangan mencakup beberapa poin krusial berikut:

  • Kondisi Fisik Penyintas: Lima pendaki yang terluka saat ini sedang dirawat intensif di rumah sakit terdekat. Mereka menderita kombinasi luka bakar akibat awan panas dan trauma tumpul akibat terjangan batuan vulkanik.

  • Penyisiran Zona Bahaya: Petugas SAR gabungan masih melakukan penyisiran saksama guna memastikan tidak ada pendaki ilegal atau mandiri yang terjebak di sekitar kawah tanpa sepengetahuan otoritas.

  • Keamanan Tim: Operasi penyelamatan dilakukan dengan kewaspadaan tinggi mengingat fluktuasi gas beracun dan ancaman erupsi sekunder yang masih bisa terjadi sewaktu-waktu.

Langkah Tegas Pemerintah dan Imbauan Keamanan

Letusan kali ini tergolong salah satu yang paling eksplosif dalam catatan sejarah aktivitas Dukono belakangan ini. Tekanan magma yang sangat kuat di bawah kawah menyebabkan sebaran abu vulkanik meluas hingga ke pemukiman penduduk. PVMBG memberikan peringatan keras kepada masyarakat di sekitar lereng untuk tidak meremehkan status “Waspada” (Level II). Status ini memang sering disalahartikan sebagai zona aman, padahal ancaman bahaya letusan bisa terjadi secara instan tanpa pemberitahuan.

Sebagai respons terhadap bencana ini, Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara secara resmi menghentikan seluruh aktivitas wisata dan pendakian di kawasan Gunung Dukono hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Langkah ini diambil guna menjamin sterilisasi area dan memberikan ruang bagi tim vulkanologi untuk melakukan kajian risiko lebih lanjut.

Masyarakat maupun wisatawan diminta untuk selalu mematuhi instruksi radius bahaya yang ditetapkan pihak berwenang. Tragedi yang menimpa para pendaki Singapura dan Jayapura ini menjadi pesan pahit bagi kita semua bahwa keselamatan adalah hal yang tidak bisa ditawar dalam menghadapi kekuatan alam. Gairah mengeksplorasi keindahan gunung api harus selalu dibarengi dengan kesiapan mental, perlengkapan yang memadai, dan kepatuhan penuh terhadap regulasi keamanan setempat.

Share: Facebook Twitter Linkedin

Comments are closed.