APTR Mendesak Pabrik Gula KTM Ditutup

oleh
Arum Sabil saat berorasi meminta PG KTM ditutup
Arum Sabil saat berorasi meminta PG KTM ditutup

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Keberadaan pabrik gula (PG) Kebun Tebu Mas (KTM) dinilai telah melanggar ketentuan perizinan dan kesepakatan yang telah dibuat dengan pemerintah, petani, dan polisi. Ribuan petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) marah.

Lalu, mereka melakukan demonstrasi di Kantor DPRD Jawa Timur (Jatim) dan Kantor Gubernur Jatim. Aksi ini merupakan bentuk kekecewaan petani tebu terhadap PT Kebun Tebu Mas (KTM) yang mendatangkan impor raw sugar, sehingga harga tebu di tingkat petani rendah. Dampak lain yang tak kalah penting yaitu harga lelang gula ikut anjlok.

Pada lelang beberapa waktu lalu, harga jual gula di kisaran Rp 11.200 per kg. seharusnya, di beberapa pasar harga gula masih bertengger di level Rp 14.500 per kg. Seperti di Koperasi Rosan Kencana milik PTPN X di Jl Gayungsari Surabaya, menjual gula Rp 14.500 per kg.

Puncak kemarahan petani dengan mendesak Pemprov Jatim agar menutup operasional PG KTM di Lamongan, Jawa Timur. Ketua Dewan Pembina APTR, H Arum Sabil dalam orasinya di depan kantor Gubernur Jatim menyatakan, masalahnya yang sekarang menimpa petani tebu adalah persoalan bangsa.

Bersama dengan ribuan petani tebu dari seluruh Indonesia, Arum Sabil hadir di Surabaya untuk menyuarakan kondisi yang dialami petani tebu sekarang ini. Menurut pria asal Jember, Jawa Timur ini, petani tebu kondisinya sekarang cukup memprihatinkan karena PT KTM melakukan impor raw sugar.

Didapat dari temuan APTR, impor raw sugar atau gula mentah yang didatangkan PT KTM sekitar 49.000 ton dari kuota yang sudah mendapatkan izin sebanyak 100.000 ton. Jika impor ini dibiarkan, maka akan terus menyebar luas dan membuat petani semakin terpuruk.

Saat itu, kata Arum Sabil, saat sebelum dibangunnya PG KTM di Lamongan, manajemen PT KTM melakukan pertemuan dengan APTR, Pemprov Jatim, Polisi, dan stakeholder lainnya untuk menggiling tebu dari petani.

APTR tentunya sangat bersuka cita karena ada pabrik yang mau giling tebu petani sehingga ada kompetisi yang sehat antar PG untuk mendapatkan tebu. “Tapi kenyataanya Gubernur, DPRD, Polda, dan petani dibohongi PT KTM,” tegasnya, Senin (15/8/2016).

Arum Sabil kembali menegaskan bahwa petani tebu tidak anti impor asalkan sesuai kebutuhan. Dari catatan APTR, kebutuhan gula di Jatim sebanyak 600.000 ton, produksinya 1,5 juta ton.

“sangat ironis jika Jatim yang surplus gula ini harus digelontorkan 100 ribu ton raw sugar. Dan kami sampaikan bahwa PG KTM harus ditutup. Jangan beri izin pabrik gula baru yang berkedok untuk impor gula mentah,” katanya.

Dia mengingatkan, bahwa harga gula sekarang ini sebesar Rp 15.000 per kg masih terjangkau. Hitung-hitungannya, kebutuhan gula per kapita per orang per bulan hanya 0,7 kg. Atau kalau dinilai hanya Rp 375 per hari.

“Konsumen mengeluarkan uang Rp 375 per hari itu mampu. Harusnya yang perlu diwaspadai kekuatan tertentu yang membisiki peresiden. Karena di balik ini ada kepentingan besar,” tandasnya. (wa/nur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.