GLOBALINDO.CO, JAKARTA - Parpol pengusung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) punya berbagai cara untuk mengganjal pergerakan Koalisi Kekeluargaan yang hingga kini belum menetapkan bakal calon Gubernur DKI. Partai Hanura misalnya, berupaya merebut beberapa partai yang sudah berada di dalam Koalisi Kekeluargaan untuk bergabung dengan gerbong partai pengusung Ahok.
Hanura sudah menugaskan tim khusus yang dinakhodai Ketua DPD Hanura DKI Jakarta Muhammad Sangaji untuk mendekati partai penantang incumbent. Bagi politisi yang akrab disapa Ongen ini, Koalisi Kekeluargaan masih rapuh dan mudah untuk digembosi lantaran belum memiliki figur Cagub.
“Koalisi itu masih prematur karena kebijakan ini ada di depan pimpinan pusat. Kecuali Gerindra, partai lain masih gamang dan menunggu kebijakan DPP untuk menentukan calon yang akan diusung,” kata Ongen kepada wartawan usai pertemuan di Kantor DPP Gerindra DKI Jakarta, Rabu (10/8).
Pendapat ini bukan isapan jempol. Karena terbukti, upaya Hanura mulai membuahkan hasil. Ongen mengklaim sudah ada setidaknya dua di antara tujuh parpol yang mulai ragu dan bersiap angkat kaki dari Koalisi Kekeluargaan.
“Di antara 7 itu kemungkinan dua akan bergabung dengan Hanura-NasDem-Golkar. Ya itu nanti ya, pokoknya ada kejutan minggu depan,” ungkapnya.
Sayangnya, Anggota DPRD DKI ini belum mau membeber dua partai yang dia maksud. Ia hanya menjanjikan dalam waktu sepekan ke depan akan ada pergeseran pada peta politik pencalonan DKI-1.
“Seminggu ke depan lah gabung dengan kita. Saya yakin tidak akan lama lagi paling lama 10 hari lagi lah,” ujarnya.
Dari rumor yang beredar, bukan hanya Hanura yang bergerilya. Partai NasDem yang pertama kali mendeklarasikan dukungan untuk Ahok pun mempengaruhi PKB, salah satu partai dalam Koalisi Kekeluargaan. Ketua Umum NasDem, Surya Paloh yang langsung mengambil peran sebagai negosiator untuk melobi PKB.
Ahok sebagai calon incumbent, diusung oleh tiga parpol. Selain Hanura dan NasDem, satu partai lain yakni Golkar mendeklarasikan dukungan untuk Ahok belakangan.
Hingga kini, Koalisi Kekeluargaan yang dimotori PDI Perjuangan dan Gerindra memang belum menemukan sosok yang tepat dan berniat kuat maju melawan Ahok. Sejauh ini, baru Gerindra yang sudah resmi mengajukan Sandiaga Uno.
Namun Sandiaga dianggap hanya layak menempati posisi Cawagub. Sementara untuk nama Cagub, sejumlah nama terus bertebaran. Di antara yang paling menonjol adalah Tri Rismaharini, kader PDI Perjuangan yang juga Walikota Surabaya.
Tetapi untuk menunjuk Risma, PDI-P menemui sejumlah ganjalan. Selain sikap masih digandoli warga Surabaya, pencalonan Risma di Pilgub DKI menjadi pertaruhan besar bagi PDI-P. Yakni resiko kehilangan simpati pemilihnya di Kota Pahlawan dan jatuhnya citra Risma jika nantinya kalah melawan Ahok. (dt/gbi)

