GLOBALINDO.CO – Jumlah data user facebook yang dicuri ditengarai jauh lebih besar dari yang terungkap sebanyak 87 juta. Pasalnya, bukan hanya Cambridge Analytica yang melakukan pencurian, tetapi ada juga beberapa pihak lain yang berkepentingan memanfaatkan data user facebook.
Indikasi baru ini dungkapkan mantan eksekutif Cambridge Analytica (CA), Brittany Kaiser. Menurut Kaiser, modus pencurian data yang dilakukan perusahaan atau organisasi politik sering menggunakan kuis berbasis seks (sex compass).
“Saya tidak tahu persis survei-survei ini atau bagaimana mendapatkan data atau prosesnya. Tapi, saya yakin pada angka pengguna Facebook yang datanya diambil dengan cara yang sama yang dipakai Kogan lebih dari 87 juta. Cambridge Analytica dan perusahaan tidak terkait lainnya dan kampanye juga terlibat dalam aktivitas ini,” tulis Kaiser kepada majelis rendah Inggris seperti ditulis The Guardian.
Kesaksian ini juga diperkuat Kaiser melalui pernyataan tertulis di persidangan Parlemen Inggris. Diketahui, setelah skandal penyalahgunaan data pengguna terkuak, Facebook menghadapi panggilan di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Indonesia, Singapura, dan Filipina.
Di Inggris, parlemen khawatir penyalahgunaan pengguna Facebook turut memengaruhi referendum Brexit yang membuat Inggris keluar dari Uni Eropa. Kaiser sendiri bekerja di tim bisnis perusahaan induk Cambridge Analytica hingga Januari 2018.
Sebelumnya, Cambridge Analytica diduga memperoleh data pengguna Facebook melalui aplikasi kuis kepribadian yang dibuat oleh peneliti Aleksandr Kogan. Ia lantas diduga menjual data pengguna yang memakai kuisnya itu ke CA.
Kaiser melanjutkan dalam kesaksian lisannya, bahwa kuis itu dibuat sebagai cara untuk mencari tahu apa preferensi pribadi user secara pribadi.
“Jika Anda membuka Facebook dan melihat kuis kepribadian viral, tidak semuanya dirancang oleh Cambridge Analytica, SCL Group, atau afiliasi kami,” tuturnya.
“Tetapi aplikasi tersebut secara khusus dirancang untuk memanen data individu yang menggunakan Facebook sebagai alatnya.”
Selain itu, Kaiser juga menekankan bahwa kuis bikinan Kogan bukanlah satu-satunya sumber data yang digunakan CA untuk melakukan analisis. Ia pun mengakui bawa banyak survei yang dilakukan CA dan rekanannya memang biasanya menggunakan login Facebook.
Kendati demikian, Kaiser mengakui bahwa dia tidak tahu secara pasti bagaimana survei-survei itu mendapatkan data dan bagaimana mereka memprosesnya.
“Tetapi saya yakin hampir pasti bahwa jumlah pengguna Facebook yang datanya dikompromikan melalui cara yang mirip dengan yang digunakan oleh Kogan jauh lebih besar daripada 87 juta,” tuturnya, seperti dikutip The Verge.
“Dan bahwa baik Cambridge Analytica maupun perusahaan dan pihak yang tidak terhubung lainnya terlibat dalam kegiatan ini,” tegas Kaiser.
Tak sampai di situ, dalam kesaksiannya Kaiser juga percaya bahwa cara-cara ini bukan hanya dilakukan oleh perusahaannya, seperti ditulis The Guardian. Ia mengaku baru mengetahui bahwa kuis buatan Kogan adalah untuk menyedot data, saat dirinya membaca laporan The Guardian pada 2015 lalu dan pihak perusahaan diminta untuk menghapus data yang sudah diambil, seperti disebutkan The Next Web.
“Namun saya bisa pastikan data yang seharusnya dihapus itu tidak dihapus dan malah digunakan oleh CA untuk kepentingan lain,” imbuhnya.
Sementara itu, Facebook mengatakan pihaknya telah mengubah kebijakan penggunaan karena data skandal penyalahgunaan data ini. Mereka kini berusaha mengaudit dan melarang aplikasi yang mungkin melanggar aturan menggunakan informasi pengguna. (cni/gbi)


