GLOBALINDO.CO, WASHINGTON - Debat calon Presiden Amerika Serikat, Hilary Clinton versus Donald Trump, di Hofstra University, Hempstead, Long Island, New York, Senin (26/9) malam waktu setempat atau Selasa (27/9) pagi WIB berlangsung sengit dan saling membongkar aib sang rival. Tudingan Hillary soal tunggakan pajak yang belum dibayar Trump dibalas rivalnya dengan rahasia email capres dari Partai Demorkat saat menjabat Menlu AS.
Debat yang dibuka sekitar pukul 21.00 waktu setempat tersebut berdurasi 90 menit tanpa jedah dan dibagi ke enam segmen yang masing-masing dijatahi 15 menit. Dalam debat perdana kali ini, kedua calon saling menyerang dan menggencarkan interupsi dalam setiap isu yang menjadi tema utama, seperti ras, ekonomi, dan kebijakan luar negeri.
Hillary, 68 tahun, mengenakan celana panjang merah, dan Trump, 70 tahun, mengenakan setelan gelap dan dasi biru dalam pertarungan ide guna memperebutkan kekuasaan di Gedung Putih. Setelah saling menyapa dengan berjabat tangan dan melemparkan senyuman, keduanya lalu menyampaikan visi dan misi masing-masing.
Perdebatan mulai sengit saat sesi pertama yang membahas soal kebijakan ekonomi masing-masing calon. Masing-masing dari mereka memaparkan visi perekonomian Amerika untuk dapat bersaing ke depannya.
Kedua kandidat saling memojokkan ketika topik debat mengarah soal ekonomi. Hillary menyebut kebijakan ekonomi Trump sebagai ‘Trickle Down’ yang direkayasa. Tak mau kalah, konglomerat properti itu pun membalas dengan menyebut mantan Menteri Luar Negeri Amerika tersebut terlalu banyak bicara dan tidak melakukan apa-apa.
Demikian pula saat Hillary menyinggung soal pajak. Trump berjanji akan membukanya jika istri mantan Presiden Amerika tersebut juga membuka e-mail-nya ke publik.
Clinton saat ini menjalani pemeriksaan sehubungan semasa menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Amerika ia menggunakan e-mail dan server pribadi untuk urusan jabatannya. Ketika Trump mengeluhkan anggaran yang minim, Hillary menyeletuknya dengan mengatakan bahwa minimnya anggaran mungkin karena Trump belum membayar pajaknya.
Trump kemudian mengkritisi program Nafta saat Hillary menjabat sebagai Menlu, yang dianggapnya tidak berguna serta rencana Trans Pacific Partnership-nya yang juga dianggapnya tidak berguna. Hillary menanggapinya dengan santai dan menyatakan tuduhan itu tidak benar.
Hillary juga menyinggung soal masa lalu Trump, di mana taipan properti itu dianggap mengandalkan kekayaan keluarganya untuk menjadi pengusaha. Trump pun menolak kritikan itu dan mengatakan usahanya yang dimulai pada 1975 hanya dibantu dengan pinjaman kecil dari ayahnya.
Holt yang merupakan penyiar program stasiun televisi NBC kemudian melerai ketika perdebatan semakin sengit saat diskusi tentang kebijakan perdagangan tiba-tiba beralih ke memerangi Negara Islam Irak dan Suriah, yang dituduhkan Trump kepada Clinton, karena diduga memberikan informasi kepada musuh dengan mengungkapkan lewat website-nya.
Hillary Tuding Trump Rasis
Debat semakin memanas ketika kedua kandidat saling serang dengan kontroversi pernyataan Trump selama ini mengenai Presiden Barack Obama tidak lahir di Amerika. Hingga akhirnya, Presiden Obama merilis akte kelahirannya pada 2011 yang menyebutkan Presiden Obama lahir di Hawaii.
Setelah akte kelahiran ditunjukkan, barulah bulan ini Trump mempercayai bahwa Obama kelahiran Amerika. Atas dasar pernyataan kontroversi ini, Clinton menuding Trump sebagai sosok rasis.
“Dia telah mengawali aktivitas politiknya berdasarkan pada kebohongan rasis terhadap presiden kulit hitam pertama kita bahwa dia bukan warga Amerika. Tidak ada bukti untuk itu, tapi dia bersikeras. Dia bersikeras dari tahun ke tahun,” kata Clinton mengutip Channel News Asia, Selasa (27/9).
Para pemilih keturunan Afrika-Amerika mendukung sepenuhnya Clinton. Namun, Trump beberapa pekan terakhir mengatakan dia percaya agenda kebijakannya akan memberi manfaat kepada warga Afrika-Amerika. Trump sesumber mengatakan kebijakan Obama maupun Clinton telah gagal membantu warga kulit hitam Amerika. “Saat Anda berusaha bertindak lebih suci dibanding dia, ini tidak akan bekerja,” kata Trump.
Di akhir debat, Clinton yang berpakaian warna merah dan Trump mengenakan jas warna hitam dan dasi warna biru, Trump mengatakan Clinton tidak memiliki stamina. untuk dapat menjadi presiden.
“Dia kelihatan tidak memilikinya, dia tidak memiliki stamina,” kata Trump. (nbc/gbi)

