Dinas Perkebunan Jatim Terus Kembangkan Tembakau Low Nikotin

oleh
Samsul Arifien menanm tembakau.
Samsul Arifien menanm tembakau.

GLOBALINDO.CO - Jawa Timur adalah kantong terbesar dalam produksi tembakau di Indonesia, selain rokok kretek. Sebagian tembakau diekspor, bahkan tidak terpengaruh oleh krisis ekonomi di Eropa. Namun petani hanya khawatir dengan kampanye dan seruan WHO.

Tembakau dari Jatim paling banyak diserap oleh berbagai pabrik rokok. Perusahaan rokok besar membangun lagi beberapa pabrik seperti di Probolinggo dan Lumajang, Jember, serta Pamekasan. Jumlah petani sebanyak 423.649 orang, terbanyak di Kabupaten Probolinggo yang berjumlah 92.853 orang.

Kabupaten Bojonegoro adalah yang kedua terbanyak dalam jumlah petani. Kemudian diikuti Pamekasan dan Lamongan. Paling sedikit terdapat di Kabupaten Madiun, yakni hanya 598 orang. Tentunya, untuk menjaga kualitas dan kuantitas tembakau di Jatim butuh peran dari petani, pemerintah, dan perusahaan swasta.

Dari sisi pemerintah, Pemerintah Provinsi Jatim melalui Dinas Perkebunan (Disbun) Jatim terus berupaya dengan berbagai program dan kegiatan agar hasil produksi tembakau petani dapat diterima pasar. Termasuk mengembangkan tembakau low nikotin yang sesuai dengan selera pasar.

Produksi tembakau dengan kadar yang rendah nikotin sudah mencapai 70 persen dari total produksi tembakau Jawa Timur. Ini dilakukan karena perubahan selera rokok masyarakat dari kretek ke rokok putihan.

Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur, Ir Moch Samsul Arifien, MMA mengatakan pihaknya akan terus mengembangkan tembakau dengan middle (sedang) sampai low (rendah) nikotin.

Jenis tembakau dengan low nikotin dengan kadar nikotin sekitar 2 persen adalah tembakau prancak, ram dan virginia bojonegoro. Sedangkan tembakau middle dengan kadar nikotin sekitar 3-4 persen adalah tembakau paiton. Untuk tembakau jawa yang high nikotin sekitar 5-6 persen tetap dibutuhkan untuk blending. “Yang middle itu Kasturi, Krasan dan Probolinggo,” Moch Samsul Arifien.

Terkait data BPS yang menyatakan adanya penurunan lahan tembakau, diakuinya setiap tahun produksi tembakau Jawa terus meningkat. Tahun lalu peningkatan luas lahan tembakau dari 15.000 hektar menjadi 30.000 hektar.

Namun karena yang dibutuhkan adalah jenis low nikotin maka yang akan dilakukan adalah bukan penanaman tembakau namun pengembangan tembakau dengan low dan middle nikotin. Untuk pengendalian rokok Jawa, saat ini tetap dikembangkan untuk pasar-pasar lokal sendiri.

 

Tahun 2015, produksi tembakau di Jawa Timur secara keseluruhan berhasil melampaui target kebutuhan pabrik rokok besar. Hal ini tampak dari pemenuhan kebutuhan tembakau terhadap perusahaan rokok-rokok besar di Jawa Timur. Samsul Arifien mengatakan, bahwa kebutuhan tembakau oleh pabrik rokok besar di Jawa Timur tahun 2015 adalah 69.452 ton.

“Dari kebutuhan 69.452 ton tersebut, produksi tembakau di Jawa Timur mencapai 99.741 ton atau 143,6%. Meski demikian semua produksi tembakau Jawa Timur tetap habis terjual.

Samsul menjelaskan ada beberapa tembakau yang target produksinya melebihi kebutuhan, antara lain: Virginia, Jawa dan Kasturi. Tembakau Virginia dengan kebutuhan produksi adalah 4.062 dengan areal 5.078 Ha, produksinya di tahun 2015 mencapai 7.759 ton dengan jumlah terpanen 9.354 Ha dengan luasan areal yang ada mencapai 9.354 ha.

Sebenarnya kebutuhan tembakau Virginia oleh pabrik rokok, jauh lebih besar dibanding target 4.062 ton tersebut. “Untuk memenuhi kebutuhan tembakau Virginia, dipenuhi dari impor, terutama dari China,” sambungnya.

Kemudian untuk tembakau Jawa, kata Samsul Arifien, kebutuhan produksi di tahun 2015 sebesar 12.009 ton dengan sasaran areal 10.196 Ha. “Realisasinya di tahun 2015 produksi tembakau Jawa mencapai 32.553 ton dengan luasan areal 30.490 Ha. Tembakau Jawa produksinya besar karena sebarannya hampir di seluruh daerah di Jawa Timur,” kata Samsul Arifien.

Untuk tembakau jenis Kasturi, produksi tahun 2015 melebihi target yaitu 16.683 ton dari target 10.833 ton. “Kita bisa memproduksi tembakau Kasturi 16.683 ton dengan luasan area mencapai 13.131,” lanjutnya.

Sedangkan untuk tembakau Paiton, yang merupakan spesifik tembakau di daerah Probolinggo, dikatakan oleh Samsul setiap tahunnya relatif stabil dengan angka produksi plus minus sama dengan target.

Tahun 2015 lalu kebutuhan tembakau Paiton sebesar 12.929 ton, dengan produksi sedikit di bawahnya, yaitu 12.383 ton dihasilkan dari areal seluas 10.762 ha. “Kalau tembakau Paiton hanya beberapa persen saja tidak memenuhi target, tipis sekali prosentasenya.”

Sementara tembakau Madura, yang selama ini realisasi selalu di atas target, tahun ini sedikit di bawah target. Tembakau Madura, kebutuhan produksi di tahun 2015 sebesar 25.256 ton dengan sasaran areal 42.093 Ha, realisasi produksi sebesar 24.240 ton dari areal terpanen 40.497 Ha.

Tembakau jenis White Burley dan Lumajang VO, tahun ini mengalami penurunan masing-masing dari kebutuhan 4.165 ton dan 198 ton, realisasi produksi kedua jenis tembakau tersebut masing-masing 1.417 ton dan 30 ton. Baik tembakau White Burley maupun Lumajang VO, sentra arealnya ada di Kabupaten Lumajang. Sementara tembakau Besuki NO di Kabupaten Jember realisasi areal seluas 3.247 ha dengan produksi 3.010 ton. (nh/wa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.