Dua Provokator Bentrokan PSHT-Bonek Divonis 3 Tahun

oleh
Massa Perguruan Setia Hati Teratai (PSHT) menggelar aksi solidaritas di depan Gedung PN Surabaya saat berlangsungnya sidang vonis dua terdakwa kasus ujaran kebencian di medsos yang menyebabkan bentrokan antara PSHT dengan Bonek, Kamis (1/3).

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Dua terdakwa perkara pelanggaran Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Jhonerly Simanjuntak dan Slamet Sunarditak bisa lolos dari jerat hukuan penjara. Majelis Hakim PN Surabaya memvonis kedua terdakwa hukuman masing-masing 3 tahun dan 2 tahun penjara karena terbukti menyebarkan ujaran kebencian melalui media sosial yang berujung pada bentrokan antara anggota PSHT dan Bonek.

“Terdakwa Jhonerlya Simanjuntak terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan menyebarkan ujaran kebencian melalui media sosial sesuai pasal 45A Ayat 2 UU RI No. 19 Tahun 2016 Tentang UU ITE dengan hukuman 3 Tahun penjara dan denda Rp 500juta subsider 2 bulan kurungan,” demikian amar putusan yang dibacakan Ketua Majelis Hakim, Majlis Syifa’urrosidin, Kamis (1/3).

Hal yang memberatkan dikarenakan terdakwa secara langsung menyebarkan kiriman yang menimbulkan provokatif antara Bonek dan PSHT yang ditujukan ke Group Bonek. Adanya kiriman itu lantas menimbulkan kebencian publik yang menyebabkan terjadinya bentrokan dengan dua korban Muhammad Anis dan Aris Eko Ristianto dari anggota PSHT meninggal.

Sedangkan terdakwa Slamet Sunardi pada amar putusan telah terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana melawan hukum sesuai pasal Pasal 45A ayat 2 UU RI Nomor 19 tahun 2016 Tentang  Perubahan Atas UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan hukuman 2 Tahun Penjara dan denda Rp 250 juta subsider 2 bulan kurungan.

Vonis 2 Tahun penjara yang dijatuhkan majlis hakim kepada terdakwa Slamet Sunardi sesuai pertimbangan majlis hakim bahwa terdakawa menyebarkan kiriman setelah terjadi bentrokan. Berbeda dengan terdakwa Jhenerly Simanjuntak yang di Vonis Majlis Hakim 3 Tahun dikarenakan Jhonerly menyebarkan ujaran kebencian secara langsung ke Group Bonek sesaat sebelum adanya bentrokan.

Ujaran kebencian yang disebarkan kedua terdakwa tersebut berbunyi:

Lek kowe rumongso Bonek, lek rumongso loro ati ndelok’o dulur – dulurmu digepuk’i karo pendekar pendekar PSHT, ayo nglumpok nang pom Balongsari saiki, tak enteni dulur. Gak usah ngenteni bales mene” Bunyai kiriman dari terdakwa,  Slamet Sunardi pada group medsos facebook ‘BONEK’” .

Sementara di luar ruang sidang, ratusan massa PSHT melurug Gedung PN di Jalan Arjuna, Surabaya. Mereka melakukan aksi solidaritas untuk dua rekannya yang menghadapi vonis, Jhonerly Simanjuntak dan Slamet Sunarditak.

Suasana  sempat tegang karena massa bonek juga turun menggelar aksi. Beruntung, aparat kemanan yang bersiaga sigap meredam gesekan dan memisahkan dua kelompok massa sehingga tidak terjadi bentrok fisik. (Baca: Copet Kepergok Di Tengah-tengah massa Bonek Dan Pesilat).

Sebelumnya dua terdakwa Pelanggaran UU ITE Jhonerly Simanjuntak oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan hukuman 4 Tahun 6 Bulan. Sedangkan terdakwa Slamet Sunardi oleh JPU di tuntut hukuman 3 Tahun 5 Bulan.

Sedangkan dua terdakwa Muhammad Tiyo dan terdakwa Muhammad Jafar dalam amar putusan oleh majlis hakim masing-masing di Vonis 10 Tahun Penjara. Sesuai pasal 170 ayat 2 tentang kekerasan yang mengakibatkan kematian dan pasal 351 ayat 1 tentang penganiayaa yang menyebabkan dua korban dari anggota perguruan silat PSHT meninggal. (ady) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.