Dubes Rusia Tuding Militer AS Biang Sulitnya Pemberantasan Teroris di Aleppo

oleh
Tentara Amerika Serikat menggelar operasi militer di Suriah.
Operasi militer Tentara Amerika Serikat di Suriah.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Ketegangan antara Rusia dan Amerika Serikat tak pernah reda. Bahkan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Yurievich Galuzin ikut memantik api perselisihan dengan menyebut operasi militer AS yang menjadi penghambat utama pemberangusan terorisme di Aleppo, Suriah.

Sebab menurut Mikhail, AS tidak sanggup membedakan antara kelompok pemberontak moderat dan kelompok teroris. Hal itu ditandai dari sikap negara Paman Sam itu yang hingga kini belum bisa memberikan pandangannya soal kelompok yang dianggap teroris dan pemberontak moderat.

“Lagi dan lagi saya harus bilang, hambatan utama operasi militer Rusia memberangus teroris di Suriah adalah ketidaksanggupan Amerika membedakan kelompok teroris dan oposisi moderat,” tutur Galuzin di Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Rabu (21/12).

Situasi ini, lanjut Mikhail, jelas menyulitkan koordinasi dalam melakukan serangan udara di Suriah. Intervensi militer Rusia di Suriah dimulai sekitar akhir 2015 lalu.

“Hingga saat ini mereka tidak lakukan itu, ini menyebabkan operasi militer Rusia di Suriah, khususnya Aleppo, tidak efektif,” katanya.

Mikhail menegaskan operasi militer Moskow di dilakukan melalui permintaan resmi dan sah dari pemerintah Presiden Bashar Al-Assad. Mikhail menampik anggapan militer Rusia kerap menyerang warga sipil dan sejumlah fasilitas sosial seperti rumah sakit dan sekolah. Ia mengatakan tudingan semacam itu masih terus santer terdengar.

Berbagai kelompok pemerhati perang Suriah juga menuding serangan udara Rusia telah menewaskan ratusan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Mikhail menyatakan negaranya siap melakukan investigasi jika memang ditemukan bukti kuat tentang tudingan tersebut.

Ia mengklaim Rusia telah membuka sejumlah koridor kemanusiaan bagi warga sipil untuk keluar dari Aleppo, kota terbesar kedua di Suriah yang menjadi pusat perang koalisi Assad dan pemberontak sebelum kesepakatan gencatan senjata tercapai.

Rusia bahkan mengatakan pihaknya di Suriah turut menyediakan sejumlah kendaraan bagi warga sipil Suriah dalam proses evakuasi Aleppo yang tengah berjalan saat ini.

Sejumlah koridor juga turut disediakan Rusia bagi pejuang militan untuk keluar dari kota tersebut.

“Jadi semua tudingan tentang bombardir Rusia pada warga sipil Suriah adalah kebohongan belaka,” katanya.

Sejak gencatan senjata di Aleppo disepakati oleh tentara Assad dan pemberontak, proses evakuasi terus dilaksanakan meski sempat tertunda akibat kesimpangsiuran informasi. Operasi evakuasi yang berjalan sejak pekan lalu telah berhasil membawa sekitar 37 ribu warga sipil dan pemberontak keluar dari Aleppo. (Baca: Konvoi Bus Pengangkut Pengungsi Aleppo Ditembaki Milisi Pro Assad).

Sementara itu, Komite Palang Merah Internasional menyebutkan hanya ada 25 ribu warga saja yang berhasil dievakuasi sejak Kamis pekan lalu.

Menurut utusan perdamaian PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, sekitar 50 ribu, termasuk 40 ribu di antaranya warga sipil, bahkan masih terkepung di Aleppo dan menunggu untuk dievakuasi. (cni/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.