GLOBALINDO.CO, MANILA – Ancaman gerakan militan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) ke negara-negara Asia Tenggara bukan omong kosong. Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyebut ada empat negara yang menjadi sasaran jika kelompok separatis radikal itu hancur di Irak dan Suriah, yakni Indonesia, Filipina, Malaysia dan Brunei Darussalam.
Menurut Duterte, ISIS yang terusir dari Aleppo di Suriah utara dan Mosul di Irak akan menyusup dan membangun kekhalifahan baru di empat negara itu.
“Ini masalah kita sekarang, ISIS, ekstremis yang berjuang keluar di Aleppo dan Mosul, setelah mereka kehabisan wilayah, mereka akan mundur ke laut dan melarikan diri,” kata Duterte dalam sebuah pertemuan dengan penduduk miskin perkotaan di Mandaluyong City seperti dilaporkan Deutche Welle pada Kamis (8/12).
“Dan mereka mempunyai mimpi membuat kekhalifahan yang akan terdiri dari Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Brunei,” ungkapnya.
Presiden Filipina yang dikenal kejam terhadap gembong narkoba itu tidak menawarkan bukti-bukti atas klaimnya itu. “Dia memang dikenal sebagai tokoh yang sering membuat pernyataan sembarangan,” tulis Deutche Welle.
Bukan hanya Presiden Filipina yang menyampaikan kekhawatiran itu. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo pun dalam beberapa kesempatan kerap mengingatkan prajuritnya dan rakyat Indonesia agar selalu waspada terhadap ancaman besar dari kelompok radikal termasuk ISIS dan invasi negara asing.
Gatot Nurmantyo menyatakan bahwa setelalah ISIS jatuh di Irak dan Suriah, mereka akan beralih ke tempat lain. Ia mengungkapkan, kelompok radikal yang berbassis di Irak-Suriah itu sudah mulai membangun basis di Mindanao.
Duterte pun mengamini itu sebagai fakta. Ia menegaskan pentingnya pemerintah federal mengamankan perdamaian di Mindanao.
“Percayalah padaku. Terserah kalian. Saya menyerahkan kepada rakyat untuk menentukan. Jika sistem federal tidak diterima, Anda mungkin juga melepaskan Mindanao. Kita tidak akan memiliki kedamaian,” kata Duterte.
“Jadi jika ada yang menolak sistem federasi, ketahuilah, tanpa federalisme orang-orang Moro tidak akan pernah menyetujui apa pun.”
Duterte juga mendesak masyarakat agar siap untuk menghadapi kemungkinan serangan teror di negara ini.
“Petualangan berikutnya yang akan saya mulai adalah terorisme. Bersiaplah untuk itu,” kata Duterte, yang menjalankan politik keras terhadap penyalahgunaan narkotika di negaranya. (dew/gbi)

