Erdogan Desak Obama Tangkap Gulen

oleh
Presiden Turki Tayyip Erdogan (kiri) berbincang dengan Presiden AS, Barack Obama (kanan) di sela Konferensi Tingkat Tinggi Negara Kelompok 20 di China awal September 2016. Dalam perbincangan itu, Erdogan mendesak Obama agar menangkap Fetullah Gulen dengan tuduhan upaya kudeta di Turki, Juli 2016 lalu.
Presiden Turki Tayyip Erdogan (kiri) berbincang dengan Presiden AS, Barack Obama (kanan) di sela Konferensi Tingkat Tinggi Negara Kelompok 20 di China awal September 2016. Dalam perbincangan itu, Erdogan mendesak Obama agar menangkap Fetullah Gulen dengan tuduhan upaya kudeta di Turki, Juli 2016 lalu.
Presiden Turki Tayyip Erdogan (kiri) berbincang dengan Presiden AS, Barack Obama (kanan) di sela Konferensi Tingkat Tinggi Negara Kelompok 20 di China awal September 2016. Dalam perbincangan itu, Erdogan mendesak Obama agar menangkap Fetullah Gulen dengan tuduhan upaya kudeta di Turki, Juli 2016 lalu.

GLOBALINDO.CO, ISTAMBUL - Pemerintah Turki belum menyerah untuk menangkap Fetullah Gulen. Presidn Turki, Tayyip Erdogan, menyerukan kepada Pemerintah Amerika Serikat agar meringkus bekas sahabatnya itu dengan tuduhan mendalangi kudeta militer.

Seruan Erdogan itu disampaikan langsung kepada Presiden AS Barack Obama di sela Konferensi Tingkat Tinggi Negara Kelompok 20 di China awal bulan ini. Seorang pejabat tinggi pemerintahan AS membocorkan pertemuan Erdogan dengan Obama tersebut.

Ia menyatakan bahwa Obama menanggapi seruan Erdogan secara dingin. Menurut Obama, Pemerintah Turki harus menunjukkan bukti-bukti kuat keterlibatan Gullen dalam kerusuhan dan upaya kudeta di Turki pada Juli lalu. Bukan semata motif dan upaya politis.

Erdogan menuding beberapa anggota gerakan keagamaan Gulen melakukan aksi pemberontakan yang gagal, sekitar dua bulan lalu. Erdogan menyatakan Washington tidak punya alasan untuk melindungi Gulen, mantan sekutu Erdogan yang menurut sejumlah pejabat Turki membangun jaringan pengikut selama beberapa dasawarsa di tubuh pasukan angkatan darat dan kantor pelayanan umum untuk mengambilalih Turki.

Saat ini Gulen diketahui tinggal di pengasingannya di negara bagian Pennsylvania, AS, sejak 1999. Ia sudah berulangkali menampik tuduhan terlibat dalam upaya kudeta.

Kementerian Kehakiman Turki sebagaimana dilaporkan kantor berita Turki, Anadolu, dan dilansir AFP, Selasa (13/9), juga telah mengajukan permintaan kepada otoritas AS untuk menangkap Gulen, yang menetap di Pennsylvania sejak meninggalkan Turki tahun 1999 lalu.

“Memerintahkan dan memimpin percobaan kudeta,” sebut Anadolu dalam laporannya soal tudingan peran Gulen. Ini merupakan pertama kalinya Turki meminta secara resmi kepada AS untuk menangkap Gulen.

Beberapa waktu terakhir, Turki berulang kali meminta AS untuk mengekstradisi Gulen. Turki bahkan telah mengirimkan sejumlah dokumen untuk menunjukkan keterlibatan Gulen dalam percobaan kudeta di Turki.

Bulan lalu, sebuah pengadilan di Istanbul mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Gulen terkait percobaan kudeta. Namun dalam berbagai kesempatan, Gulen selalu membantah terlibat dalam percobaan kudeta di Turki pada Juli lalu.

Saat Wakil Presiden AS Joe Biden mengunjungi Ankara, beberapa waktu lalu, Biden mengaku bisa memahami ‘perasaan intens’ yang ada di Turki terkait Gulen. Saat itu, Biden menegaskan, AS tidak punya kepentingan khusus untuk melindungi Gulen.

“Tidak ada kepentingan apapun untuk melindungi siapapun yang membahayakan sekutu. Tidak ada. Tapi kami perlu memenuhi persyaratan standar hukum yang berlaku sesuai undang-undang kami,” tegasnya. (afp/ant/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.