Hasil Suvei, Demokrat dan PAN Kehilangan 50 Persen Pemilih di Pemilu 2019

oleh
Kampanye Partai Demokrat dan PAN. Dua parpol ini diprediksi bakal kehilangan pemilih terbesar yang berpindah ke parpol lain pada Pemilu 2019.
Kampanye Partai Demokrat dan PAN. Dua parpol ini diprediksi bakal kehilangan pemilih terbesar yang berpindah ke parpol lain pada Pemilu 2019.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional diramalkan menjadi parpol yang ditinggal pemilih paling banyak pada Pemilu 2019. Dibanding empat parpol lain yakni Golkar, Gerindra, PPP dan Hanura yang juga kehilangan banyak pemilih, dua parpol berbendera biru tadi harus merelakan 50 persen pemilihnya berpindah ke partai lain.

Hal ini berdasar hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Desember 2017 lalu.

“Swing voters paling banyak dialami Demokrat 51 persen. Diikuti oleh PAN 50 persen, PPP dan Hanura masing-masing 47 persen, Gerindra 45 persen dan Golkar 38 persen,” kata Direktur Utama SMRC Djayadi Hanan di Kantor SMRC, Jalan Cisadane Nomor 8, Menteng, Jakarta, Selasa (2/1).

Sementara itu, partai yang pemilihnya paling sedikit berpindah dukungan ke partai lain adalah PDIP 23 persen dan PKS 20 persen. Kedua parpol ini dikenal memiliki basis massa yang lebih ideologis dan loyal dibanding partai lain.

Meski ditinggal 23 persen pemilih, PDIP mampu mendatangkan pemilih baru dalam jumlah lebih besar dibandingkan pendukungnya yang pergi. Hal ini membuat suara PDIP naik secara signifikan jika dibandingkan Pemilu 2014. Elektabilitas PDIP mencapai 27,6 persen.

“Bedanya, pemilih PKS pergi sekitar 20 persen, dan belum mendatangkan pemilih baru secara berarti,” ujarnya.

Djayadi menambahkan, alasan pemilih memilih PDIP atau calon legislatif yang diusung dikarenakan sejumlah faktor. Alasan pertama, karena PDIP menjadi partai utama pendukung Presiden Jokowi sebesar 20 persen, pelanjut perjuangan Soekarno 14,4 persen, merasa lebih memperjuangkan aspirasi rakyat 13,9 persen.

Kemudian, alasan PDIP dipilih karena banyak membantu rakyat secara langsung sebesar 11,7 persen, kepemimpinan Megawati Soekarnoputri 6,8 persen, bersih dari korupsi 5,8 persen.

Alasan berikutnya, seperti kader mampu memimpin bangsa 5,3 persen, mampu mengatasi masalah bangsa 4,6 persen, kompak dan minim konflik 4,0 persen serta melakukan tugas sosialisasi kepada rakyat 3,9 persen. Responden yang tidak tidak tahu atau tidak menjawab sebesar 9,5 persen.

Diketahui, survei SMRC ini dilakukan pada 7-13 Desember 2017 dengan melibatkan 1.220 responden. Metode survei yang dipakai adalah multistage random sampling dengan margin of errornya 3,1 persen. (med/gin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.