
GLOBALINDO.CO, RIYADH - Istana Al-Yamama yang merupakan kantor pusat Raja Arab Saudi sekaligus pengadilan kerajaan menjadi sasaran serangan rudal balistik milik pemberontak Houthi. Rudal balistik itu diluncurkan dari wilayah Yaman.
Beruntung, pasukan Arab Saudi dapat menghalau dan menghancurkan rudal balistik itu pada Selasa (19/12/2017) waktu setempat.
Seperti dilansir AFP, Rabu (20/12/2017), ledakan keras terdengar pada pukul 10.50 GMT atau 17.50 WIB sesaat sebelum Raja Salman dijadwalkan melakukan pembahasan mengenai anggaran tahunan Saudi.
(Baca Juga: Arab Saudi Gagalkan Pengeboman Gedung Kementerian Pertahanan)
“Rudal tersebut ditujukan di wilayah permukiman penduduk di Riyadh, namun dapat dihalau dan dihancurkan tanpa ada korban jiwa,” tulis Biro Pers Saudi mengutip pernyataan juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Turki Al Maliki.
“Kepemilikan senjata balistik oleh organisasi teroris, termasuk kelompok Houthi yang didukung Iran, merupakan ancaman bagi keamanan regional dan internasional,” tambahnya.
Penduduk di Riyadh mengaku mendengar ledakan keras dan melihat kepulan asap.
“Saya berada di kantor saat mendengar ledakan besar,” kata Tomas Kompikan, salah satu pekerja asing di Riyadh.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Nikki Haley menyebut, rudal yang ditembakkan dari Yaman ke ibu kota Arab Saudi, Riyadh memiliki ciri khas senjata yang dipasok Iran.
Saat berpidato di hadapan para anggota Dewan Keamanan PBB, Haley mengatakan, rudal tersebut punya kesamaan dengan rudal dalam serangan-serangan serupa yang menggunakan senjata pasokan Iran.
“Kita harus bertindak bersama untuk mengungkap kejahatan-kejahatan rezim Teheran dan melakukan apapun yang diperlukan demi memastikan mereka mendapat pesannya. Jika kita tidak melakukannya, Iran akan membawa dunia lebih masuk ke dalam konflik kawasan,” papar Haley.
Haley kemudian mengajukan serangkaian aksi yang bisa dilakukan DK PBB, namun Rusia yang bersekutu dengan Iran, mengindikasikan tidak akan mendukung rencana aksi tersebut.
Sebelumnya, Iran berkeras membantah mempersenjatai kubu pemberontak Houthi di Yaman.
Saluran TV Al Masirah milik kelompok pemberontak Houthi di Yaman mengatakan, sasaran rudal adalah pertemuan para pemuka Arab Saudi di Istana Al-Yamama, yang merupakan kantor pusat Raja dan juga pengadilan kerajaan.
Rudal itu ditujukan kepada pertemuan para pemimpin Saudi di Istana Al-Yamama di Riyadh dengan agenda antara lain diperkirakan berupa pembahasan anggaran tahunan dan dihadiri oleh Putra Mahkota, Mohamed bin Salman, menurut Al Masirah.
Beberapa menit kemudian, stasiun TV pemerintah Saudi melaporkan sebuah rudah sudah dicegat di sebelah selatan ibu kota.
Sebuah video yang diterbitkan oleh seorang pria yang mengaku berada di distrik Olaya memperlihatkan asap putih di atas Riyadh dan suara ledakan kemudian terdengar.
Awal bulan lalu, satu rudal juga berhasil dicegat sebelum menghantam bandara Riyadh. Rudal-rudal ini, menurut Dubes AS untuk PBB, Nikki Haley, jelas buatan Iran.
Data PBB memperlihatkan lebih dari 8.670 orang meninggal dunia dan 49.960 lainnya cedera sejak pasukan koalisi turut campur dalam peperangan di Yaman.
Perang tersebut juga menyebabkan 20,7 juta orang memerlukan bantuan kemanusiaan dan turut menimbulkan wabah kolera yang diperkirakan menewaskan 2.219 orang sejak April lalu.
Kepala kelompok Houthi, Abdulmalik Al Huthi mengatakan, serangan ke Saudi merupakan balasan atas serangan seribu hari oleh Saudi.
“Hari ini, rakyat kita bisa mencapai jantung kota Riyadh, istana pemerintahan, dengan rudal balistik,” katanya.(kcm/dtc/ziz)

