Kasus Penggelapan Uang di PT Hasjrat Abadi Sebesar Rp.19,3 M Mulai Menemui Titik Terang

oleh
Hadi Purnomo saat menjalani persidangan.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Kasus pidana penipuan dan penggelapan dalam jabatan senilai Rp.19,3 miliar di PT Hasjrat Abadi yang disertai Tindak Pidana Pencucian Uang mulai menemui titik terang.

Fakta tersebut terkuak berdasarkan keterangan Drs. Sumadji M.Si, tetangga terdakwa mengatakan pernah menjual rumah di Dukuh Kupang VII No.35 kepada Ir. Wiwik Hariyati, yang merupakan istri dari Terdakwa Drs. EC Hadi Purnomo (53).

Selain itu, kesaksian pada sidang hari ini yang juga menghadirkan Ir. Wiwik Hariyati warga Pakis Wetan 2/11 Surabaya (selaku istri terdakwa).

Dari keterangan Wiwik menyebut jika suaminya yang bekerja sebagai Kepala Bagian Administrasi dan Keuangan PT Hasjrat Abadi Cabang Surabaya sejak tahun 1995 memilik gaji kurang lebih Rp.6 juta per bulan telah membeli barang – barang mewah.

Diantaranya, membeli sebuah rumah baru pertama dikawasan Dukuh Kupang Timur XIX No.35, Surabaya seharga Rp.360juta, pada tahun 2013. Kedua, membeli rumah di kawasan Dukuh Kupang Timur XIX No.62, Surabaya seharga Rp 875 juta pada tahun 2014 dan dikawasan Dukuh Kupang Timur VII No.35, Surabaya seharga 825juta pada tahun 2014.

Selain rumah, pada tahun 2016 suaminya yang juga terdakwa membeli sebuah Villa dikawasan Taman Dayu, Pandaan dan membeli mobil mewah baru Fortuner VRZ dan second Mitsubishi Outlander Sport.

“Rumah di Dukuh Kupang Timur atas nama saya, villa dan mobil dibeli suami saya, tapi saya tak tahu uangnya dari mana,” kata Wiwik.

Menanggapi keterangan Ir. Wiwik Hariyati, terdakwa Drs. Ec Hadi Purnomo membenarkan jika rumah, villa, dan mobil dari hasil pembelianya.

Jaksa Penuntut Umum, Winarko mengatakan, jika kasus ini terkait penggelapan dalam jabatan dan juga Tindak Pidana Pencucian Uang atau TPPU. Terkait barang bukti yang diperlihatkan jaksa dipersidangan meliputi dua SHGB dan Surat Kendaraan.

“Sidang ini terkait kasus Penggelapan Dalam Jabatan dan TPPU. Barang bukti meliputi SHGB, surat hijau, STNK dan mobil, kalau mobil kita titipkan di rumah titipan barang rampasan, total kerugianya hampir 20milyar” tukas Winarko. Kamis (15/8/2019)

Selain itu, menurut Winarko, total kerugian yang dialami perusahaan PT Hasjrat Abadi sejak Januari 2012 – Juli 2018 senilai Rp. 19,3 milyar. Pada perkara ini, terdakwa dilaporkan oleh Triman Wahyudi Kepala Cabang Surabaya dan Aris Rahmatdi, SH., MH. yang notabene bagian Legal – Litigation Department perusahaan tersebut.

Terkait keterangan saksi Wiwik, Ia menjelaskan jika pada fakta persidangan terkait dugaan TPPU tidak diakui secara keseluruhan karena masih belasan milyar kerugian uang perusahaan yang belum dikembalikan.

Menurut dia, Wiwik selaku istri terdakwa sebenarnya kalau dilihat aliran dana diperbankkan dia mengikuti dan terlibat yang terbukti ada beberapa transaksi pembelian pakaian wanita, logam mulia, pembayaran kartu kredit Wiwik, penarikan tunai di teller, ikut melakukan pembayaran tunai pembelian rumah (yang diatasnamakan Ir. Wiwik Hariyati), dll. yang dilakukan oleh istrinya, tapi pada fakta sidang semuanya itu dipelintir dan dibuat seolah-olah dilakukan suaminya sendirian” tukasnya

Saksi Aris Rahmatdi, SH., MH. (Legal – Litigation Department PT Hasjrat Abadi) mengatakan atas perbuatan terdakwa perusahaan PT Hasjrat Abadi dirugikan Rp. 19,3 milyar. Dari kerugian tersebut, Aris meminta agar terdakwa mengembalikan sepenuhnya dan siap menempuh jalur hukum untuk gugat secara perdata.

“Saya harap terdakwa bisa mengembalikan uang perusahaan sepenuhnya Rp. 19,3 milyar. Kita lihat dulu putusanya mendatang sebelum mengambil jalur hukum dikemudian hari terkait kerugian perusahaan,” pungkasnya. (Ady/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.