Kasus Penistaan Agama Benamkan Elektabilitas Ahok-Djarot

oleh
Pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur petahan DKI Jakarta, Basuki Tjahaja PUrnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.
Pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur petahan DKI Jakarta, Basuki Tjahaja PUrnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat harus bekerja keras untuk merebut kembali kepercayaan masyarakat ibukota yang memudar pasca  ditetapkannya Ahok sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama.
Pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur petahan DKI Jakarta, Basuki Tjahaja PUrnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat harus bekerja keras untuk merebut kembali kepercayaan masyarakat ibukota yang memudar pasca ditetapkannya Ahok sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Kasus dugaan penistaan agama sungguh menjadi mimpi buruk bagi calon gubernur petahana DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menjeratnya menjadi tersangka. Imbas kasus ini, elektabilitas Ahok-Djarot Saiful Hidayat terjun bebas.

“Kasus itu berpengaruh signifikan pada persepsi publik. Isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) mengubah persepsi masyarakat Jakarta dalam menentukan pilihannya, dari yang tadinya bersifat rasional menjadi tidak rasional,” ujar Direktur Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, di Jakarta, Kamis (24/11).

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia dari 15-22 November lalu, tingkat kepuasan warga Jakarta terhadap kinerja Ahok mencapai 69 persen. Akan tetapi, elektabilitas duet dari PDIP, Golkar, NasDem dan Hanura saat ini hanya 26,2 persen, berada di bawah pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni (Agus-Sylvi) yang mencapai 30,4 persen.

Padahal menurut Burhan, selama ini elektabilitas para kandidat incumbent selalu berbanding lurus dengan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja mereka. Namun, untuk situasi di Jakarta hari ini, hubungan dua variabel itu menjadi tidak selaras akibat meledaknya kasus pelecehan Al Quran.

“Bagi saya ini sangat menarik. Karena di satu sisi mayoritas warga Jakarta mengakui kinerja Ahok selaku petahana (pejawat), tapi di sisi lain justru banyak dari mereka justru tidak memilih Ahok jika pilkada diadakan hari ini,” tuturnya.

Ia berpendapat, mencuatnya isu SARA akhir-akhir ini menjadi salah satu faktor paling berpengaruh yang membuat banyak pemilih di Jakarta enggan memilih Ahok, meskipun kinerjanya sebagai pejawat memperoleh apresiasi yang tinggi. Menurut Burhanuddin, isu-isu primordial saat ini lebih tertanam di dalam memori warga Jakarta, dibandingkan isu-isu yang bersifat teknokratis, substantif, dan rasional.

“Terpelesetnya Ahok dalam kasus al-Maidah ayat 51 membuat isu primordial yang sebelumnya mengendap, menjadi muncul di permukaan. Belum lagi efek mobilisasi dan pemberitaan media yang memunculkan tekanan kuat, sehingga persepsi primordial yang dulu pengaruhnya kecil, sekarang menjadi kian membesar,” ucapnya.

Survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia dari 15-22 November 2016 lalu melibatkan 798 responden warga Jakarta yang sudah mempunyai hak pilih. Sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan metode multistage random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan wawancara tatap muka terhadap para responden. Adapun margin of error hasil survei tersebut sebesar plus minus 3,6 persen, dengan tingkat kepercayaan 95 persen. (rp/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.