GLOBALINDO.CO, MAMUJU UTARA - Kasus sengketa lahan yang berujung kerusuhan kembali pecah. Masyarakat adat Kaili Tado di wilayah Mamuju Utara terlibat ketegangan dengan perusahan kelapa sawit nasional PT Mamuang Mamuju, Sulawesi Barat. Ketegangan ini sudah mencuat belasan tahun terakhir dan membuat masyarakat adat Kaili Tado frustasi dan bertindak nekat.
Masyarakat adat membakar rumah dan pondokan di Blok C26 areal HGU PT Mamuang di Kecamatan Pasangkayu, Mamuju Utara, Selasa (4/10/2016). Pembakaran rumah dan pondokan ini merupakan puncak kekesalan masyarakat adat lantaran laporan perampasan dan penyerobotan lahan oleh perusahan dengan menggunakan preman kepada polisi dan pemerintah setempat tak kunjung mendapat perhatian.
Selain membakar rumah, masyarakat adat yang mempersenjatai diri dengan parang panjang sempat terlibat aksi kejar-kejaran dengan sejumlah preman suruhan perusahana di areal perkebunan kelapa sawit PT Mamuang. Namun aksi itu tak berlangsung lama dan tidak memakan korban jiwa.
Para preman yang jumlahnya hanya belasan orang memilih mundur dan meninggalkan lokasi saat warga membakar markas mereka. Selang beberapa saat kemudian, aparat dari Polres Mamuju Utara tiba di lokasi dan mengamankan kedua belah pihak yang bersengketa.
Ketua adat, Kohe menegaskan, aksi pembakaran pondokan preman ini merupakan puncak kekesalan warga.
“Aksi protes warga ini semoga mendapat perhatian pemerintah,” harap Kohe.
Setelah melakukan aksi pembakaran, masyarakat adat yang tergabung dari dari dua desa yakni Desa Bonemarawa dan Bulawa menduduki areal perkebunan sawit.(kcm/ziz)

