
GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Pemerintah meresahkan laju teknologi yang diiringi dengan perkembangan pesat bisnis online berdampak pada melambatnya penyerapan tenaga kerja dan penurunan jumlah pengangguran. Karena itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mendorong peningkatan kualitas usmber daya manusia agar cepat beradaptasi dengan kemajuan teknologi.
“Kami kawatir melihat kemungkinan bahwa penciptaan lapangan kerja akan terganggu dengan tren teknologi, karena ada teknologi yang menciptakan disruption (gangguan),” ujar Menksu Sri Mulyani di Jakarta, Senin (4/12).
Ia menjelaskan, penciptaan lapangan kerja menjadi sangat penting. Untuk itu, pemerintah akan menyiapkan antisipasi guna mendorong penyerapan tenaga kerja.
“Teknologi menciptakan inovasi dan disruption. Kebutuhan untuk mengantisipasi tidak hanya retorika, tapi apakah 257 juta penduduk Indonesia yang mayoritas muda bisa menyiapkan diri,” ungkap Sri Mulyani.
Ketua Asosisasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani, melihat perusahaan-perusahaan e-commerce saat ini lebih banyak menjual produk impor. Hal ini dikhawatirkan akan sangat berpengaruh pada pengurangan lapangan kerja.
“Kalau yang diperdagangkan barang luar negeri semua, lalu apa untungnya untuk ekonomi kita. Kalau pengangguran kemudian meningkat, ini tentu perlu kita sikapi,” jelasnya.
Selain penyerapan tenaga kerja, Sri Mulyani juga mengakui terjadi pelemahan pada penurunan angka kemiskinan. Padahal, tahun ini, pemerintah menargetkan angka kemiskinan bisa turun dari saat ini sekitar 10,7 persen menjadi di bawah 10 persen dan pada 2019 nanti ke angka 7 persen-8 persen.
“Tahun depan, kemiskinan kami harapkan turun ke single digit. Itu bahkan tidak pernah terjadi di zaman Presiden Soeharto sekalipun. Ini adalah sesuatu yang sulit tapi akan kami coba wujudkan,” pungkasnya. (cni/mun)

