Pasukan Koalisi Arab Saudi Serang Pasar di Yaman, 23 Orang Tewas

oleh
Bangunan di Pasar Souk al-Shahra, Taiz, Yaman. yang hancur lebur setelah mendapat serangan udara dari pasukan koalisi yang dimpin Arab Saudi pada, Selasa (26/120 lalu.
Bangunan di Pasar Souk al-Shahra, Taiz, Yaman. yang hancur lebur setelah mendapat serangan udara dari pasukan koalisi yang dimpin Arab Saudi pada, Selasa (26/12).

 

GLOBALINDO.CO, TAIZ – Penderitaan rakyat Yaman belum berakhir. Sebanyak 23 orang meregang nyawa dan puluhan lainnya terluka dalam serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi ke pasar Souk al-Shahra, Taiz, Yaman.

Serangan itu dilandasi laporan beberapa sumber bahwa Pasar Souk al-Shahra merupakan wilayah yang dikuasai pemeberontak Houthi. Souk al-Shahra, Taiz, 200 kilometer di barat daya Sanaa, ibu kota Yaman.

Dalam serangan yang dilancarkan pada 26 Desember 2017 itu setidaknya 13 warga sipil tewas. Sementara itu, 10 lainnya merupakan pemberontak.

Sebuah jaringan teleivisi milik Houthi, Al Masirah, mengklaim bahwa korban serangan itu lebih dari 50 orang. Mereka mengatakan, korban dapat terus bertambah.

Dalam situsnya, Al Masirah mengunggah foto yang memperlihatkan sejumlah motor dan toko hancur. Beberapa potongan jasad yang diklaim merupakan milik warga sipil juga diunggah dalam situs tersebut. Namun klaim ini belum bisa dikonfirmasi ini, termauk oleh media Al Jazeera.

Sekadar mengingatkan, koalisi Arab Saudi kerap melakukan serangan udara di wilayah yang dikuasai pemberontak Houthi. Sebelum menyerang pasar pasar Souk al-Shahra, pasukan Yaman yang didukung oleh koalisi, berupaya merebut desa al-Haima yang berlokasi di dekat pasar tersebut.

Setidaknya, 71 orang tewas dalam 48 jam akibat serangan udara koalisi Arab Saudi yang menargetkan pemberontak Houthi di Yaman. Demikian seperti yang dilaporkan media lokal.

Salah seorang warga mengatakan, puluhan orang telah kabur serangan tersebut. Sedangkan mereka yang terjebak, tinggal dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

Dilansir Al Jazeera, sejumlah warga mengatakan bahwa sejumlah serangan udara menghujani Sanaa pada 25 Desember 2017. Akibat peristiwa itu, 11 orang tewas, termasuk tiga anak-anak dan dua perempuan.

Seorang aktivis pro-Houthi, Abdul Malek al-Fadhl, mengatakan bahwa dua bangunan di Hay Asr-wilayah tetangga Sanaa-rata dengan tanah. Saat itu, serangan koalisi menargetkan rumah Mohammed al-Raimi, seorang pemimpin Houthi lokal. Fadhl mengatakan, pesawat tempur juga menargetkan mobil Raimi saat ia mencoba melarikan diri.

Sebanyak 13 warga sipil dan 10 orang pemberontak Houthi tewas dalam serangan udara yang dilancarkan pasukan Yaman dengan Arab Saudi di Pasar Souk al-Shahra, Taiz.

Jaringan televisi yang dikelola Houthi, Al Masirah, mengatakan setidaknya delapan warga sipil, termasuk dua perempuan, tewas dalam serangan di Provinsi Hodeidah.

Sementara itu, empat warga lainnya tewas dalam penyergapan di sebuah gedung pemerintahan di Provinsi Dhamar.

Kantor berita yang dikelola Houthi, Saba, melaporkan bahwa setidaknya terdapat 48 warga yang tewas, termasuk 11 anak-anak, dalam 51 serangan udara di sejumlah wilayah Yaman pada 24 Desember.

Saba juga melaporkan bahwa sejumlah orang tewas dalam empat serangan udara yang menargetkan pengunjuk rasa di distrik Arhab yang memprotes soal keputusan Donald Trump. Namun, belum ada tanggapan dari Arab Saudi mengenai hal tersebut.

Konflik telah berkobar di Yaman sejak 2014, yakni kala pemberontak Houthi yang bersekutu dengan mantan Presiden Ali Abdullah Saleh, berhasil menguasai daerah-daerah terpencil di negara tersebut, termasuk Sanaa.

Pada 2015, Arab Saudi meluncurkan kampanye udara besar-besaran melawan pemberontak pada Maret 2015. Sejak saat itu, Houthi berhasil dipukul mundur di sebagian besar wilayah selatan. Namun, mereka tetap memegang kendali sebagai besar wilayah utara.

Arab Saudi pun mengintensifkan embargonya di Yaman pada bulan lalu, setelah pemberontak Houti meluncurkan sebuah rudal balistik ke Riyadh. Meski blokade itu bertujuan untuk memotong pasokan senjata Houthi dari Iran, hal tersebut berdampak buruk warga sipil Yaman, di mana delapan juta orang di sana mengalami kelaparan.

Menurut PBB, konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 10.000 orang dan melukai lebih dari 40.000 orang lainnya sampai saat ini. Negara tersebut pun menghadapi wabah kolera mematikan, yang telah menewaskan sekitar 2.000 orang dan menjangkut ke lebih dari satu juta orang sejak April 2017. (jaz/adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *