Pidie Jaya Digoyang Dua Gempa Susulan, Jumlah Korban Jiwa 103 Orang

oleh
Tim SAR memandu korban selamat dalam proses evakuasi dari reruntuhan bangunan akibat gempa di Desa Ulee Glee, Kecamatan Bandar Dua , Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Rabu (7/12) lalu.
Tim SAR memandu korban selamat dalam proses evakuasi dari reruntuhan bangunan akibat gempa di Desa Ulee Glee, Kecamatan Bandar Dua , Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Rabu (7/12) lalu.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Gempa susulan dua kali kembali menggetarkan Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Kamis (15/12). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika mencatat gempa terjadi pada pukul 03.02 WIB, Kamis dini hari ini, juga terjadi pada pukul 06.29 WIB.

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono mengatakan, kedua gempa susulan tersebut berskala 3,4 SR.

“Jadi keseluruhan sejak 7 Desember hingga hari ini, sudah 110 gempa susulan,” kata Daryono.

Jumlah yang meningkat ini merupakan hasil penggabungan data, saling melengkapi data, dan validasi data, antara data gempa susulan hasil monitoring BMKG Pusat Jakarta dan Balai Besar MKG Wilayah I di Medan, Sumatera Utara.

Adapun rincian data gempa susulan ini pada 7-15 Desember 2016 masing-masing terjadi 58 kali, 21 kali, 10 kali, 7 kali, 6 kali, 2 kali, 1 kali, 3 kali, dan 2 kali.

Sebelumnya gempa tektonik dengan kekuatan 6,5 Skala Richter mengguncang wilayah Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada Rabu, 7 Desember 2016. Analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di darat pada jarak 106 km arah tenggara Kota Banda Aceh pada kedalaman 15 km.

Gempa di Pidie Jaya ini menyebabkan setidaknya 100 korban jiwa. Tak hanya itu, gempa juga menghancurkan sejumlah bangunan, di antaranya 429 rumah, 234 rumah toko, 18 masjid, 4 sekolah, dan satu bangunan rumah sakit di Kabupaten Pidie Jaya roboh.

Terkait jumlah korban gempa 7 Desember lalu, hingga hari ini tercatat ada 103 jiwa. Sebanyak 7 orang di antaranya belum teridentifikasi. Korban meningggal gempa bumi ini masing-masing 96 orang di Pidie Jaya, 2 orang di Pidie dan 5 orang di Bireuen.

“7 korban (meninggal) belum dapat diidentifikasi karena korban bukan warga lokal yang berkunjung ke Pidie Jaya saat kejadian gempa dan tertimbun bangunan roboh,” jelas Kepala Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia Sutopo Purwo Nugroho.

Sutopo menjelaskan, korban luka terdata ada 700 orang. Masing-masing 168 oran luka berat dan 532 orang luka ringan. Seluruhnya menurut Sutopo sudah mendapat santunan dari pemerintah dan biaya pengobatannya digratiskan alias ditanggung pemerintah.

“40 pasien masih dirawat di selasar atau di luar RSUD Pidie Jaya karena bangunan RS rusak. Pasien juga merasa nyaman di luar karena takut adanya gempa susulan. Tenaga medis, obat-obatan dan sarana medis mencukupi untuk merawat korban,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Sutopo jumlah pengungsi saat ini menjadi 85.161 orang. Masing-masing di Pidie Jaya 82.122 orang, Pidie 1.295 orang dan Bireuen 1.324 orang.

“Semua pengungsi di Bireuen menumpang pada kerabatnya. Sebagian besar pengungsi membangun tenda atau barak di sekitar lingkungan rumahnya. Meskipun rumahnya roboh atau rusak berat, umumnya pengungsi nyaman tinggal di tenda dekat rumahnya sambil mengawasi harta miliknya daripada ditempatkan di pengungsian,” ucapnya.

Dilanjutkan Sutopo, pendataan rumah terus dilakukan secara cepat. Data sementara rumah rusak yang dilaporkan ke Posko Utama di Pidie Jaya terus bertambah. Data rumah rusak sementara adalah 16.238 unit yaitu 2.536 rusak berat, 2.473 rusak sedang dan 11.329 rusak ringan. Penetapan rumah rusak yang telah diverifikasi ditetapkan oleh Bupati.

“Untuk mempercepat penyaluran bantuan stimulan perbaikan rumah kepada masyarakat yang rusak maka data rumah tidak usah menunggu semuanya selesai. Tapi per hari di SK-kan Bupati kemudian BNPB menyalurkan bantuan Rp 40 juta per rumah rusak berat dan Rp 20 juta per rumah rusak sedang-ringan,” tutur Sutopo.

Menurutnya, cara ini merupakan mekanisme baru dibandingkan dengan periode sebelumnya dalam penanganan bencana. Tapi sesuai arahan Presiden, lanjutnya, penyaluran bantuan dilakukan bertahap sesuai hasil verifikasi per hari.

“Cara ini akan lebih cepat. Sebab berdasarkan pengalaman sebelumnya mekanisme penetapan rumah rusak selalu memerlukan waktu lama karena jumlah rumah terus membengkak,” papar Sutopo.

Sutopo menyebut, secara umum penyaluran bantuan dan logistik mencukupi karena bantuan terus berdatangan. Penanganan berjalan dengan baik karena pemerintah, pemda, NGO, relawan dan masyarakat sangat nyata membantu korban bencana gempa di Aceh.

Ditambahkan Sutopo, masa tanggap darurat tetap berlaku selama 14 hari sejak kejadian gempa yaitu 7-20 Desember 2016. Evaluasi penanganan terus dilakukan setiap hari dari masing-masing klaster nasional seperti klaster pengananan pengungsi, kesehatan, logistik dan lainnya. (dt/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.