GLOBALINDO.CO, PONOROGO - Ratusan warga Desa Talun, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo dipaksa mengungsi akibat bencana longsor yang menimpa dalam dua pekan terakhir. Sedikitnya 308 warga memenuhi pos-pos pengungsian yang dibentuk pemerintah dan relawan.
“Kalau hujan deras mengguyur bagian atas, malam hari warga masih mengungsi ke posko yang sudah ditentukan. Tetapi kalau siang hari mereka kembali ke rumah. Mereka khawatir tanah longsor dan bebatuan akan menimpa rumahnya saat hujan lebat mengguyur di daerah atas,” kata staf BPBD Ponorogo, Erwan Budiarto di sela penanganan bencana banjir di Kelurahan Pakunden, Kota Ponorogo, Jumat (18/11/2016).
Erwan menuturkan, setiap tahunnya, saat musim penghujan tiba, warga Desa Talun sering mengungsi ke posko. Posko yang disiapkan diantaranya kantor kepala desa dan beberapa rumah warga yang aman dari terjangan longsor.
Saat ini, warga khawatir longsoran batu besar yang berada diatas bukit. Pasalnya, beberapa tahun sebelumnya, pernah ada dua batu yang jatuh menggelinding dari atas bukit menuju pemukiman warga.
“Menurut warga sekitar, setelah dipecah-pecah batu itu baru habis diangkut 11 truk. Untuk batu yang masih diatas bukit diperkirakan besarnya melebihi dari yang pernah jatuh ke pemukiman masyarakat,” ungkap Erwan.
Camat Ngebel, Hadi Priyatno, yang dihubungi terpisah, menyatakan, warga Desa Talun mengungsi secara sporadis saja. Pasalnya, lokasi tanah longsor masih agak jauh dengan pemukiman warga.
“Pengungsi masih sporadis karena tanah longsor masih agak jauh dari rumah. Posisinya masih berjarak 500 meter sampai satu kilometer,” kata Hadi.
Dia mengatakan, warga lebih memilih mengungsi ke posko saat malam hari untuk mengantisipasi longsor. Tetapi kalau warga merasa aman mereka tetap berada di rumah masing-masing.
“Kalau hujan lebat mulai siang dan sore hingga malam banyak warga yang memilih mengungsi,” ucap Hadi.(kcm/ziz)

