Sejarah Langka Islam Nusantara: Gus Mus dan MUI Sepakat Soal Salat Jumat di Jalan

oleh

gus-mus-dan-maruf-aminGLOBALINDO.CO, JAKARTA - Catatan sejarah yang sangat lengka tercipta di tengah kisruh perpolitikan nasional dan sepanjang perjalanan Islam di Nusantara. KH Mustofa Bisri atau karib disapa Gus Mus yang kerap mengkritik keras sepak terjang Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya memiliki kata sepakat. Gus Mus dan MUI sepakat dalam hal “keanehan” pelaksanaan salat jumat di tengah jalan raya yang bakal digelar Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI pada 2 Desember 2016.

Dalam cuitan di akun twitternya, Gus Mus berharap aksi itu tidak dilakukan.

“Aku dengar kabar di Ibu Kota akan ada Jumat-an di jalan raya. Mudah-mudahan tidak benar,” tulis Gus Mus lewat akun Twitter-nya.

“Kalau benar, wah dalam sejarah Islam sejak zaman Rasulullah SAW baru kali ini ada bid’ah sedemikian besar. Dunia Islam pasti heran,” sambung mantan Rois Syuriah Nahdhlatul Ulama (NU) ini.

Gus Mus mempertanyakan apa dalil Alquran dan hadisnya melakukan salat Jumat di jalanan. Dia juga mempertanyakan apakah Rasullullah SAW, para sahabat dan tabi’in pernah melakukan atau membolehkan salat Jumat di jalan raya.

“Kalau benar, apakah salat tahiyyatal masjid diganti salat tahiyyatat thariq atau tahiyyatasy syari?” ucapnya.

Jika salat Jumat di jalan protokol Jakarta itu benar akan dilakukan, lanjut Gus Mus, dia mengimbau umat Islam yang percaya dirinya tidak punya kepentingan politik apapun agar memikirkan hal itu dengan jernih.

“Setelah itu silakan Anda bebas untuk melakukan pilihan Anda. Aku hanya merasa bertanggung jawab mengasihi saudaraku. In uriidu illal ishlãha mãs tatha’tu wamã taufiiqii illa biLlãhil ‘Aliyyil ‘Azhiim,” tulisnya. “Artinya kurang lebih: Aku hanya berniat (ber)baik semampuku; taufikku hanya dengan pertolongan Allah Yang Maha Luhur dan Agung,” sambung Gus Mus dalam cuitan berikutnya menjelaskan maknanya.

Banyak netizen yang merespons cuitan Gus Mus itu, baik yang pro maupun konta. Ada juga yang meminta dirinya agar berkata yang menyejukkan saja dan memberikan wejangan yang lembut seperti biasanya. Gus Mus pun menjawab hal itu.

“Ini menurutku bagian dari mengasihi sesama muslim. Kalau ada yang justru merasa lain, aku serahkan kepada Allah yang Maha Tahu,” ujarnya.

Gus Mus mengatakan, sepengetahuannya, baik salat Id apalagi salat Jumat tidak pernah dilakukan oleh Rasullullah SAW di jalan. Karena itu, dia berharap agar hal itu tidak dilakukan.

“Demo di negara demokrasi seperti Indonesia ini sah adanya. Tapi poinku, adalah salat Jumat-nya. Demo setelah habis salat Jumat kan bisa,” ujarnya.

Setali tiga uang, MUI kini sedang menggodok fatwa terkait larangan salat jumat di jalanan.

“Lagi dibahas fatwanya, ini enggak boleh pernyataan. Fatwa itu harus dibahas dulu,” kata Ketua MUI, Ma’ruf Amin.

“Rujukannya harus jelas, harus pendapat-pendapat ulama. Rujukannya harus kita himpun. Boleh atau tidak. Fatwa itu enggak boleh jadi harapan. Kita enggak boleh minta, itu memang ada prosedurnya. Kita harus tunduk pada prosedur itu,” sambung Ma’ruf.

Wakil Ketua MUI Zainut Tauhid juga berpendapat sama. Soal salat Jumat bersama di jalan protokol yang akan dilakukan GNPF MUI saat aksi demo 2 Desember menurutnya masih dalam pembahasan.

“MUI melalui Komisi Fatwa sedang membahas dan mendalami masalah yang ditanyakan. Insya Allah pada waktunya akan disampaikan kepada masyarakat,” ujar Zainut saat dihubungi detikcom lewat telepon.

Dia meminta masyarakat bersabar. MUI dalam waktu dekat akan mengeluarkan fatwa terkait aksi salat Jumat di jalan pada 2 Desember itu.(dtc/ziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.