Sidang Tanah, Sumari Didakwa Pasal Tipu Gelap

oleh
Sumari (duduk) saat menjalani persidangan di PN Surabaya.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Sidang kasus penipuan dan penggelapan terkait aliran dana jual beli tanah yang berada di Jalan Bumi Sari Praja Kel. Lontar Kec. Sambikerep, Surabaya dengan terdakwa Sumari bin Wadis kembali digelar di PN Surabaya.

Pantauan di PN Surabaya, terdakwa Sumari bin Wadis terlibat saling tuding dengan para saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Pasalnya, Sumari yang notabene sebagai makelar jual beli tanah telah menerima Rp. 325 juta dari saksi korban Riyono atas pembelian dua bidang tanah milik Hariyati dengan luas masing 250² persegi.

Atas tudingan terdakwa Sumari, saksi H Fauzan alias Mas’ud mengaku telah menerima uang dari terdakwa Sumari dengan nominal Rp. 75 juta. Uang itu sebagai bentuk ucapan terima kasih atas upah hasil penjualan bidang tanah tersebut.

“Saya terima uang dari Sumari Rp. 75 juta,” kata H Fauzan di hadapan Majlis Hakim yang diketuai Syifaurrosidin SH, MH.

Sementara itu, Penasihat Hukum terdakwa menanyakan kepada saksi H Fauzan terkait siapa penjual dan pembeli atas dua bidang tanah yang berada di Kawasan Bumi Sari Praja tersebut.

“Ada dua bidang tanah, masing-masing luas 250 M2, setahu saya pembelinya Riyono, Itupun saya tahu nama Riyono dari terdakwa Sumari,” tukas H Fauzan.

Sementara itu, saksi Harun Ismail yang saat itu menjabat sebagai Lurah, Lontar, Kecamatan Sambikerep, mengatakan, jika telah mengeluarkan surat keterangan riwayat tanah atas nama Hariati.

Surat keterangan tersebut telah disesuaikan dengan data di Buku Leter C. Akan tetapi, di hadapan majelis hakim, Harun terang-terangan mengaku tidak mendatangi obyek lokasi saat membuat surat keterangan yang diminta Ibu Hariati.

“Yang pasti surat itu disesuaikan data yang ada di buku C, saat itu saya tidak mendatangi lokasi. Secara administrasi semuanya sudah clear,” tukas Harun yang saat ini menjabat sebagai Kepala Kecamatan Lakar Santri, Surabaya.

Sementara itu, Ridwan tim Panitia A mengatakan, jika kepengurusan surat yang dimaksud saksi Harun Ismail secara administrasi sudah benar. Sebab, sebelumnya dua bidang tanah milik Hariati tersebut belum memiliki sertifikat hak milik.

Untuk diketahui, pada perkara ini, terdakwa Sumari menawarkan 2 bidang tanah masing-masing seluas 250 M2 milik Hariati kepada saksi korban Riyono seharga Rp. 325juta dengan menunjukkan surat Petok D.

Untuk menyakinkan korbanya, terdakwa lantas meminjam surat tanah seluruhnya untuk digunakan balik nama atas nama Riyono, Termasuk Peta Bidang.

Setelah saksi korban Riyono Terperdaya, dan merasa yakin kepada terdakwa kemudian Saksi Riyono menyerahkan uang pembayaran yang diberikan secara bertahap, dengan total keseluruhan Rp. 325 juta atas dua bidang tanah.

Setelah itu dibuatkanlah Ikatan Jual Beli (IJB) No. 8 dan Perjanjian Ikatan Jual Beli No. 10 masing-masing tertanggal 13 Mei 2013 serta Surat Kuasa untuk menjual tanggal 13 Mei 2013 saat itu dihadapan notaris Teguh Santoso.

Kemudian Riyono berencana melakukan balik nama atas kepemilikan tanah tersebut menjadi atas nama miliknya dan juga meningkatkan Bukti Kepemilikan menjadi Sertifikat Hak Milik (SHM) dikantor Pertanahan Surabaya namun tidak bisa dilakukan.

Sebab, Obyek Tanah yang terdapat didalam Petok D tidak sesuai dengan yang ada di lapangan. Akibat perbuatan terdakwa Sunari Bin Wadis saksi korban Riyono mengalami kerugian Rp. 325 juta.

Atas perbuatan terdakwa Sunari Bin Wadis diatur dan diancam pidana sesuai dalam Pasal 372 dan Pasal 378 KUHPidana Tentang Penipuan dan Penggelapan. (Ady/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.