GLOBALINDO.CO, MANILA – Meski menuai protes keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, Presiden Filipina Rodrigo Duterte tak mau mundur sejengkal pun untuk menumpas gembong narkoba di negaranya. Sudah 1.054 orang yang baru diduga sebagai bandar narkoba di Filipina ditemukan tewas dalam tiga bulan terakhir.
Jumlah ini dipastikan akan terus bertambang seiring kebijakan Duterte untuk memberantas peredaran zat adiktif di negaranya. Presiden yang baru dilantik Juni 2016 itu bahkan memerintahkan kepolisian dan membentuk tim khusus untuk menembak mati para bandar narkoba yang sudah terbukti maupun baru dugaan tanpa proses peradilan.
Soal kecaman dari PBB, Dutete pun tak mau ambil pusing. Duterte malah balik meminta PBB tidak ikut campur urusan dalam negerinya. Ia mengklaim dipilih rakyat Filipina untuk bersikap keras pada pengedar narkoba, dan kini sedang memenuhi janji itu.
“Untuk apa sih PBB mengurusi republik ini? Yang terbunuh juga baru seribu orang tapi seakan-akan Filipina harus disudutkan,” ujar Duterte saat berpidato di Ibu Kota Manila, Rabu (17/8).
Takkalah sengit, Duterte juga mengultimatum pemantau Hak Asasi Manusia, maupun lembaga di bawah PBB, agar tidak mengusik tindakan pemerintah Filipina. Politikus 71 tahun ini menyatakan PBB bodoh lantaran meminta polisi menghormati hak asasi pengedar narkoba.
“Jangan sampai ada investigasi (lembaga HAM) yang menempatkan kita seakan-akan penjahatnya,” kata Duterte.
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon bulan lalu menyatakan perkembangan kekerasan di Filipina sangat mengkhawatirkan. Banyaknya orang-orang mati ditembak tanpa pengadilan merupakan preseden buruk bagi sebuah negara demokratis.
“Tindakan semacam itu ilegal dan melanggar hak dasar setiap manusia,” kata Ban.
Kecaman terhadap Filipina juga dilontarkan oleh Badan Anti-Narkoba PBB. Lembaga ini mendukung upaya perang terhadap narkoba, tapi tidak dengan cara menembak mati orang-orang yang belum diadili.
Diperkirakan selama tiga bulan terakhir sudah ada 1.054 orang yang tewas ditembak mati hanya karena dia diduga Bandar narkoba. Yang membuat banyak pihak mengernyitkan dahi. Eksekutor pembunuhan ‘bandar’ itu dilakukan oleh tim misterius yang dibentuk dari kepolisian.
Sedikitnya 400 jasad dibunuh secara misterius. Tindakan keras ini mirip dengan operasi Penembakan Misterius di Indonesia era Orde Baru silam.
Duterte sekaligus mengumumkan puluhan nama pejabat daerah maupun pusat yang dituduh membekingi bisnis narkoba. Belasan pejabat telah menyerahkan diri ke polisi, karena pemerintah pusat mengumumkan ancaman tembak di tempat apabila mereka nekat kabur. (gbi)

