GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Keunggulan popularitas dan elektabilitas pasangan incumbent bukan jaminan bagi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Syaiful Hidayat bisa menang mudah di Pemilihan Gubernur DKI 2017. Bahkan sebaliknya, pasangan yang diusung PDI Perjuangan, Golkar, NasDem dan Hanura ini bisa saja tersungkur apabila lengah dari sejumlah ancaman dari para penantangnya.
Dari sejumlah survei, popularitas dan elektabilitas Ahok-Djarot memang masih unggul cukup jauh dibanding dua penantang. Namun dengan waktu tersisa sekitar empat bulan sebelum pemilihan, 15 Februari 2017, suara Ahok-Djarot berpotensi tergerus oleh tiga ancaman berikut ini:
Pertama, tingginya popularitas dan elektabilitas incumbent bisa menjadi bumerang. Ancaman ini berkaca pada Pilgub DKI 2012 lalu saat Cagub Fauzi Bowo (Foke) yang berstatus incumbent menggandeng Nachrawi Ramli akhirnya kalah telak dari pasangan Joko Widodo-Ahok setelah melewati pertarungan dua babak.
Yang mencengangkan, pada putaran kedua pasangan Foke-Nachrawi bahkan mengantongi modal politik sekitar 70 persen suara. Angka ini merupakan total perolehan suara partai penyokong pada pemilu DKI 2009 seperti Demokrat, Golkar, PKS, PPP, PKB, dan Hanura.
Adapun pasangan Jokowi Ahok saat itu hanya didukung oleh PDIP dan Gerindra yang masing-masing hanya memiliki 10 persen dan 5 persen suara. Ternyata pasangan dengan modal politik yang minim ini justru sanggup mengalahkan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi.
Kali ini, situasi hampir serupa terjadi pada Ahok-Djarot. Pasangan petahana ini mengantongi total dukungan 47,85 persen suara (PDIP suara 27,15 persen, Golkar 8,29 persen, Hanura 7,87 persen, dan NasDem, 4,54 persen) atau 52 kursi DPRD DKI merupakan modal politik paling besar bila dilihat dibnading dua duet rival mereka.
Bandingkan dengan pasangan Agus-Sylviana yang disokong oleh PPP dengan perolehan suara 9,97 persen, Demokrat 7,96 persen, PKB 5,73 persen, dan PAN 3,81 persen. Empat partai ini hanya mengumpulkan 27,47 persen suara atau 28 kursi. Adapun pasangan Anies-Sandiaga mendapatkan dukungan paling kecil, yakni Gerindra 13,06 persen dan PKS 9,35 persen. Dua partai ini mengumpulkan suara 22,41 persen atau 26 kursi DPRD.
Hal kedua yang bisa menjadi bumerang bagi Ahok-Djarot adalah tingginya popularitas dan elektabilitas mereka. Saat ini Ahok masih lebih kondang dan memiliki tingkat keterpilihan tinggi. Survei Poltracking Indonesia pada 6-9 September 2016 menunjukkan Ahok paling populer, paling disukai dan tingkat elektabilitasnya 40,77 persen. Sedangkan elektabilitas hanya Anies Baswedan 8,92 persen.
Hasil survei itu bisa mengecoh. Menilik pengalaman pilkada 2012, begitu cepat perubahan politik terjadi. Hasil sigi Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang diadakan akhir Juni 2012 menunjukkan pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli sukses meraih 43,7 persen. Jokowi- Ahok cuma 14,4 persen. Sementara empat pasangan lain hanya memperoleh dukungan di bawah 10 persen.
Yang terjadi dalam pemilihan pada 11 Juli 2012 amat mengejutkan. Jokowi-Ahok meraih 42,6 persen suara, dan Fauzi Bowo-Nachrowi hanya 34,05 persen. Adapun empat pasangan lainnya memperoleh suara jaug lebih kecil. Di putaran kedua yang digelar pada 20 September 2012, akhirnya pasangan Jokowi Ahok memenangi pertarungan.
Ketiga, ancaman dari popularitas pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang terus merangkak naik. Peluang pasangan yang diberangkatkan Partai Gerindra-PKS ini untuk mengguilingkan Ahok-Djarot cukup terbuka.
Survei Poltracking Indonesia pada 6-9 September 2016, memang masih menunjukkan Ahok paling populer, paling disukai. Tetapi tingkat elektabilitasnya hanya 40,77 persen, sedangkan popularitasnya masih yang tertinggi 92,56 persen.
Di sisi lain, elektabilitas Anies Baswedan memang hanya 8,92 persen. Namun popularitasnya yang mencapai 71,79 persen, hanya kalah dari Ahok.
Ketertinggalan ini masih sangat mungkin dikejar. Apalagi, popularitas pasangan Anies, Sandiaga Uno, 64,10 ada di urutan ketiga. Menyusul di belakangnya cawagub incumbent, Djarot Syaiful Hidayat sebesar 59 persen. Adapun nama Agus Yudhoyono dan Sylviana belum masuk survei. (tp/gbi)

