Warga Dukung Pembangunan Buffer Zone TPA Benowo

oleh
Para pemulung saat memilih sampah di TPA Benowo.
Para pemulung saat memilih sampah di TPA Benowo.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA - Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya membangun buffer zone atau kawasan penyangga TPA Benowo disambut baik warga sekitar. Salah satunya disampaikan Tipung Muljoko, warga Western Village.

Tipung menyatakan, dirinya merupakan salah satu warga terdampak bau sampah TPA Benowo. Selama ini, dia dan keluarganya memang kerap mencium aroma tak sedap sampah dari TPA Benowo.

“Memang tidak setiap saat. Tapi, ketika arah angin menuju ke perumahan kami, baunya pasti tercium. Biasanya, bau sering tercium saat pukul 5 sampai 7 sore,” katanya.

Tipung tak bisa berbuat banyak. Ketika bau sampah mulai ‘menyapa’, dia hanya bisa menutup pintu rumah rapat-rapat. “Ya, intinya saya mendukung upaya pemkot untuk mengurangi dampak negatif TPA Benowo terhadap permukiman sekitar ini. Semoga bisa segera terealisasi,” tukas ayah dua anak ini.

Problem serupa juga dialami Krisdian Marta. Pria yang juga tinggal di Western Village ini menuturkan, intensitas bau sampah akan meningkat saat memasuki musim hujan. Durasinya bisa berjam-jam.

“Kasihan anak-anak tidak bisa bermain dengan nyaman di lingkungan perumahan,” katanya.

Krisdian dan warga lainnya sejauh ini hanya membahas persoalan itu dalam forum internal warga. Oleh karenanya, begitu mendengar rencana pemkot membangun buffer zone, dia langsung semringah.

“Saya harap masalah bau sampah ini bisa teratasi dengan cepat dengan cara atau mekanisme apa pun,” ungkap pria yang berkerja di Dinas Perhubungan Provinsi Jatim ini.

Untuk diketahui, pemerintah kota terus mematangkan rencana pembangunan buffer zone TPA Benowo. Bahkan Pemkot telah memiliki konsep yang cukup matang terkait desain buffer zone yang akan dibangun.

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini menjelaskan area tersebut akan berkonsep seperti hutan dan dilengkapi track untuk bersepeda. Buffer zone TPA Benowo diharapkan menjadi tempat yang indah dan menarik.

“Selain memiliki fungsi utama sebagai kawasan penyangga, buffer zone diharapkan dapat dimanfaatkan warga sebagai sarana edukasi dan rekreasi,” kata Tri Rismaharini sebelumnya. (bmb/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.