GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Gempa yang mengguncang Pidie, Aceh, Rabu (7/12) pagi menjadi peringatan keras bagi pemerintah untuk membenahi masalah permukiman dan kependudukan. Sebab, sedikitnya 157 juta jiwa penduduk Indonesia di 386 kabupaten dan kota bermukim di wilayah-wilayah yang rawan gempa bumi dan bencana alam lain.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan wilayah yang paling rawan gempa adalah Indonesia bagian timur.
“Dari jumlah itu, 148,4 juta jiwa penduduk Indonesia terpapar langsung bahaya gempa Bumi dan 3,8 juta jiwa terpapar bencana tsunami,” kata Kepala Hubungan Masyarakat BNPD, Sutopo Purwo Nugroho, di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Rabu (7/12) petang.
Menurut Sutopo, sebanyak 3,3 juta laki-laki dan 3,2 juta perempuan penduduk Indonesia berisiko terpapar bahaya tinggi gempa bumi. Sedangkan, mereka yang terpapar risiko bahaya sedang gempa bumi mencapai 71,3 juta laki-laki dan 3,2 juta perempuan.
Dari sisi bahaya tsunami, ia mengungkapkan, data BNPB merinci 1,4 juta laki-laki dan 1,4 juta perempuan terpapar risiko bahaya tinggi tsunami, sedangkan yang terpapar risiko bahaya sedang sebanyak 461.000 laki-laki dan 451.000 perempuan.
BNPB juga mencatat angka penduduk yang rentan terpapar bencana gempa bumi dan tsunami. Dari kategori ini terdapat 27,2 juta jiwa yang rentan terpapar bencana alam itu. Rinciannya, 1,1 juta penduduk Indonesia rentan bahaya tinggi gempa Bumi dan 26 juta jiwa rentan terpapar bahaya sedang gempa bumi.
Untuk bencana tsunami ada 536.000 penduduk Indonesia rentan terpapar bahaya tinggi tsunami dan 164.000 penduduk pada bahaya rendah tsunami, demikian data BNPB.
Gempa bumi berkekuatan 6,4 pada skala Richter di Kabupaten Pidie, Aceh, pagi tadi. Gempa Bumi itu disebabkan sesar mendatar aktif yang tidak berpotensi tsunami karena terjadi bukan di lokasi yang rawan penyebab tsunami. (ant/gbi)

