Satpas SIM Polres Gresik Anti Calo

oleh
Kasatlantas Polres Gresik AKP Wikha Ardilestanto

GLOBALINDO.CO, GRESIK –Satuan penyelenggara administrasi (Satpas) SIM Polres Gresik, terbukti tidak bisa disusupi calo. Seorang Pekerja Harian Lepas (PHL) berinisial RAN yang diduga menjadi calo dalam uji praktik SIM, gagal mencetak SIM untuk pelangganya yang terlanjur membayar.

Terungkapnya percobaan percaloan yang dilakukan RAN dengan tarif berkisar Rp 350 hingga 400 ribu, setelah salah seorang netizen Teguh Setiawan di sebuah grup facebook Gresik Sumpek, pada Minggu (07/01) kemarin. Ia menulis status ‘Onok seng ero jenenge wong seng ngewangi Pak Jailani praktik sim (Ada yang tahu namanya orang yang membantu Pak Jalilani praktik sim-red).

Unggahan status mendapat respon netizen dengan 133 komentar dan 126 like. Salah seorang netizen yang menyebut nama Pak RAN sebagai orang yang dimaksud dalam status tersebut. “Pak Ran…” tulis akun facebook Bondet Larat saat mengomentari status ini.

Dia mengaku sudah membayar Rp 350 ribu untuk bisa diloloskan dalam praktik uji sim. Namun, kenyataannya janji itu tidak terkabul. Dia akhirnya meminta uangnya kembali dan hanya dikembalikan Rp 300 ribu oleh Pak Ran. “Piro bro… 350 ta…???. Aq mbalik 300 lur duwek e tak saut ae…

Menanggapi percaloan yang gagal dan ramai diperbincankgan netizen ini, Kasatlantas Polres Gresik AKP Wikha Ardilestanto menegaskan, pihaknya tidak main-main dengan sistem dan komitmen yang sudah diterapkan.

“Terbukti tidak bisa (cetak SIM), sekarang oknum PHL ini diuber-uber karena orang sudah terlanjur membayar ratusan ribu namun dia tidak bisa membuktikan bisa cetak SIM,” tegas Wikha saat dihubungi melalui selulairnya, Senin (8/1).

Ia mengaku sudah memanggil oknum PHL, namun tidak mengaku. Saat ini PHL yang telah mencoba mencari keuntungan pribadi itu telah diberhentikan. “Sudah kita panggil tapi tidak mengakui. Tapi kami tetap memberhentikan, karena ini kan mau mengambil keuntungan pribadi,” tuturnya.

Wikha menambahkan, anggotanya tidak akan mengorbankan remonerasi mereka hanya untuk melayani calo yang hasilnya tidak sebanding dengan remonerasi yang mereka terima.

“Misalnya Pak Jaelani, pangkatnya Aiptu, remonerasinya setingkat perwira. Mana mau dia mengorbankan tunjangan yang selevel perwira kemudian mbelani uang yang tidak seberapa,” pungkasnya. (nh/jun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.