Juni 4, 2026

Globalindo.co – Harapan Baru Indonesia & Portal Berita Terkini

Globalindo.co menyajikan berita terbaru, opini mendalam, dan informasi strategis mengenai perkembangan ekonomi, politik, dan sosial sebagai harapan baru bagi kemajuan Indonesia.

Sukses di Bandung, Milangkala Tatar Sunda Bakal Digelar Bergilir

Sukses di Bandung, Milangkala Tatar Sunda Bakal Digelar Bergilir | BANDUNG – Eksibisi budaya akbar Milangkala Tatar Sunda yang telah bergulir sejak awal Mei 2026 di Kabupaten Sumedang akhirnya menyentuh garis finis di Kota Bandung, Jawa Barat. Penutupan selebrasi tahunan ini dikemas lewat sebuah pawai budaya kolosal yang sukses mentransformasi jalanan kota menjadi panggung kesenian terbuka yang sarat akan nilai historis.

Karnaval budaya yang dihelat pada Sabtu (16/5/2026) tersebut mengambil rute melintasi sejumlah jalur protokol di Kota Kembang. Rombongan besar peserta mulai bergerak dari kawasan hijau Kiara Artha Park, menyusuri Jalan Jakarta dan Jalan Supratman, hingga berakhir secara terpusat di pelataran ikonik Gedung Sate, Jalan Diponegoro. Antusiasme tinggi terlihat dari ribuan pasang mata warga yang memadati area pedestrian demi mengabadikan momen kebudayaan yang terbilang langka ini.

Simfoni Budaya Nusantara: Leburan Estetika Lokal dan Lintas Provinsi

sukses-di-bandung-milangkala-tatar-sunda-bakal-digelar-bergilir

Dedi Supandi, selaku Ketua Panitia Milangkala Tatar Sunda sekaligus Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jawa Barat, menjelaskan bahwa festival ini merupakan ruang ekspresi sekaligus apresiasi bagi para seniman. Tidak tanggung-tanggung, seluruh perwakilan dari 27 kabupaten dan kota se-Jawa Barat turun langsung menyuguhkan performa terbaik mereka, lengkap dengan atribut dan alat musik khas daerah masing-masing.

Menariknya, daya tarik acara ini tidak hanya bersumber dari khazanah lokal pasundan. Pihak penyelenggara juga merangkul berbagai legiun kebudayaan dari luar Provinsi Jawa Barat untuk ikut melebur dalam iring-iringan. Beberapa delegasi daerah yang tampak memeriahkan parade di antaranya berasal dari Aceh, DKI Jakarta, Surakarta, Yogyakarta, Ponorogo, hingga kawasan pesisir Tegal dan Brebes. Kehadiran mereka membawa pesan kerukunan antar-suku yang begitu kental di sepanjang rute karnaval.

Menyingkap Tabir Sejarah: Kesaksian atas Keaslian Mahkota Binokasih

Satu elemen yang paling dinantikan sekaligus menjadi pusat perhatian utama dalam pawai kali ini adalah diaraknya Mahkota Binokasih Sanghyang Pake. Lambang supremasi dan kedaulatan dinasti kerajaan Sunda kuno tersebut dikeluarkan dari ruang penyimpanan khusus untuk diperlihatkan secara terbuka kepada publik, memicu kekaguman mendalam dari para penonton.

Guna meluruskan kesimpangsiuran informasi yang kerap muncul di masyarakat, pihak panitia memberikan klarifikasi tegas mengenai status kepemilikan benda pusaka tersebut. Dedi mengonfirmasi bahwa mahkota emas yang dibawa di tengah-tengah kepungan massa tersebut adalah artefak peninggalan sejarah yang tulen, bukan sekadar properti imitasi.

“Walaupun versi duplikatnya tersimpan rapi di Sumedang, namun untuk kebutuhan kirab budaya kali ini, mahkota yang kami hadirkan adalah 100 persen pusaka asli. Langkah berani ini kami ambil sebagai bentuk edukasi langsung kepada generasi muda bahwa bumi Jawa Barat menyimpan akar peradaban yang sangat agung serta nilai historis yang luar biasa tinggi,” urai Dedi dalam taklimat medianya, Rabu (20/5/2026).

Standardisasi Layanan Medis Jalur Pawai dan Rencana Ekspansi Tuan Rumah

Menyadari besarnya volume massa yang berjubel di ruang publik, manajemen penyelenggaraan menerapkan standar keselamatan yang ketat. Sejumlah posko kesehatan darurat bersama armada ambulans disiagakan secara berkala di tiap titik strategis sepanjang rute kirab. Fasilitas ini disiapkan untuk memberikan tindakan medis cepat jika ada warga yang mengalami kelelahan, walau masyarakat tetap diimbau untuk memastikan kondisi fisik mereka prima sebelum datang ke lokasi.

Keseruan pesta rakyat tidak lantas meredup saat matahari tenggelam. Pada Minggu (17/5/2026) malam, selebrasi berlanjut lewat panggung hiburan bertajuk Peuting Munggaran Milangkala Tatar Sunda yang dipusatkan di halaman Parkir Barat Gedung Sate, menampilkan kolaborasi musik kontemporer dan instrumen tradisional yang dinamis.

Menatap agenda tahun-tahun mendatang, skema penyelenggaraan dipastikan akan mengalami penyegaran. Dedi membocorkan bahwa lokasi perayaan Milangkala Tatar Sunda berikutnya bakal dipindahkan ke wilayah lain secara bergilir, memprioritaskan daerah-daerah di Jawa Barat yang belum mendapatkan kesempatan emas pada periode kali ini.

Sebagai komitmen untuk memberikan hiburan yang inklusif, seluruh rangkaian acara, mulai dari parade budaya di jalanan hingga panggung seni di Gedung Sate, dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat secara cuma-cuma alias gratis tanpa dipungut biaya tiket masuk.

Share: Facebook Twitter Linkedin

Comments are closed.